Hopppssss.... Hei hei hei, kali ini gue (seena) mau ngejelasin yang sejelas-jelasnya mengenai si Arashi ato yg sering kalian denger beritanya di google ato di mana terserah.
Nah nah, jadi td tuh gw iseng2 nyari 'Arashi di naruto, bener ga sih?' Dannn keluarnya banyak pendapat yg berbeda, ada yg bilang dia tuh kk nya naruto (?), ada yg bilang dia tuh naruto sndiri yg ngubah namanya (?), tp nih yg paling ngakak ada yg bilang kalo si arashi ini kembaran naruto yg ada di Naruto The Movie 9 : road to ninja xD NGAKAK bro!
Oke gue luruskan berita tntang si arashi gaje ini. Fix ! ARASHI ITU CUMA HOAX !!
Awalnya character ini dibuat oleh fans yang PENGGEMAR BERAT naruto gw g tau pasti tp yg jelas begitulah kabar yang gw denger.
Terus, sekarang bulan desember 2015 naruto udah TAMAT. Skaligus mengatakan kalo Arashi itu TIDAK ADA.
Naruto n Sasuke vs Madara | si arashi gk ada. Bahkan sampe si Naruto ama Sasuke uda punya anak, si arashi itu ga ada !!!
Jadi sekali lagi, ARASHI ITU HOAX !!! GAK ADA
Kalo lo smua pnya pndapat lain, yowes silahkan comment ntr gue baca satu2. Thankyuuuuuuu....
Dunia Seena
Kamis, 10 Desember 2015
Minggu, 15 November 2015
School Of Chaos [PROLOGUE]
School Of Chaos
[Author : Seena]
Twitter : @SeenaGL
*Ciet, Plomosi* #PLAAKKK *digebuginReaderz*
Note :
Pakai hastag #SOC_Next kalo mau ff ini di next ke twitter ku ya
Tag :
Fanfict JKT48, Fanfiction JKT48, Cerbung JKT48, Fanfict Sinka JKT48, Fanfict Melody JKT48, Delusiin Oshi, Delusiin JKT48, Delusi Oshi, Delusi JKT48, Cerita JKT48, Cerita Bersambung JKT48
[Cast : ]
~ All Member JKT48
~ All Ex Member JKT48
~ Alvin Y
~ Alexander Samuel
~ Aloysio Tony Roberto Diaz
~ Beberapa guru sklh yg ga guna XD
[WARNING!!!]
Genre-nya gak nentu, ada Action, Romance (dikit), Humor (maybe), trus member JKT48 jadi sableg, sengklek, idiot, dll XD
Ni FF tadinye mau gue kasih spin off avatar : legend of aang, tp kgk jadi :v jadinya gue kasih judul School Of Chaos, soalnye ntar critanye mirip ama Naruto *Eh, kok gue beberin yak?* *Ditimpuq Readers*
[PROLOGUE]
Beberapa tahun yang lalu...
Di sebuah daratan terpencil layaknya sebuah pulau yang tidak berpenghuni, tidak terawat, dan minim penerangan, berjalanlah seseorang dengan gagah berani dan juga memakai jaket berwarna kehitaman.
Pria tersebut berjalan tegap menuju sebuah cahaya yang kecil berada di bawah tanah, sesampainya di tempat bercahaya tersebut pria itu menjentikkan jarinya.
'GABRUUUUKKKK'
Seketika itu juga tanah yang tadinya bercahaya menjadi runtuh, benar saja di bawah sana sudah ada seorang gadis yang seumuran dengan pria tersebut dan juga seorang anak kecil yang setia berdiri dibelakang gadis tersebut.
"A... Apa maumu..?" Gadis itu mencoba sebisa mungkin agar suara yang ia keluarkan tidak bergetar, ia mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan perasaan takut dan khawatirnya.
"Hahaha... Seperti biasa, Melody..." Ujar pria tersebut datar menggantungkan kalimatnya, sebuah senyum jahat terukir di wajah rupawan yang ia miliki.
Gadis bernama Melody tersebut terdiam. Ia membisu. Tepatnya tidak ada kata-kata lagi yang bisa ia keluarkan, ia takut, teramat takut, yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah memeluk adiknya dengan erat. Ia tidak mau kehilangan adik satu-satunya ini, hanya adiknya ini yang tersisa dari keluarga besar Melody.
Ya, seluruh keluarga besar Melody telah di bunuh. Tidak, tepatnya terbunuh akibat peperangan besar. Peperangan yang hanya menyisakan dirinya dan adiknya saat ini. Melody menatap tajam kedua mata pria di depannya seakan ingin melawan, namun apa daya Melody tidak dapat mengimbangi kekuatannya, bagaimana 'pun juga ia akan kalah, karena kekuatan yang ia punya saat ini terbilang biasa-biasa saja tidak terlalu hebat, namun tidak terlalu lemah standar-standar saja.
"Oh ayolah..." Bujuk pria tersebut masih terkekeh geli saat melihat tatapan Melody, kedua matanya yang berwarna merah pekat membalas tatapan Melody dengan lebih tajam "serahkan adikmu, maka nyawamu akan selamat... Imel..." Ujar Pria tersebut disertai sebuah seringai licik terpancar dari raut wajahnya.
"Kaaa~ Frieska takut..."
Gadis kecil tersebut memeluk erat kakaknya, seakan tidak ingin melepaskannya. Saking takutnya sudah tidak terhitung berapa kalinya gadis mungil ini buang air kecil di celana yang ia pakai saat ini, termasuk saat ini juga ia sedang buang air kecil.
Melody menatap iba kearah adik kesayangannya ini, sebelah tangannya membelai rambut adiknya ini. "Fries..." Panggil Melody lirih, ia tak bisa menahan bendungan airmata yang sudah nyaris jatuh dari kedua pelupuk matanya, bahkan bobol sudah pertahanan yang ia miliki sontak seisi airmatanya keluar membasahi kedua pipi halus yang ia miliki.
Melody segera memeluk adiknya yang lebih kecil 10 tahun darinya, otomatis baju yang dikenakan Frieska menjadi basah akibat airmata Melody yang sudah bocor sedari tadi.
"Tidak ada yang menyuruh kalian menangis dasar manusia lemah!" Sahut pria itu dengan kasar
"Kalo gitu, biarkan Frieska yang pergi kak.. Kakak tolong jaga mamah sama papah, Frieska akan tanggung semuanya" ujar gadis kecil bernama Frieska disela-sela isak tangisnya
"Frieska..." Panggil Melody lirih, perlahan namun pasti Frieska melepaskan pelukan mereka sambil mengusap airmata kakaknya ini.
"HAHAHA!!! Manusia BODOH! Mamah? Papah? Tidak ada satupun dari mereka yang selamat!" Sahut pria tersebut disertai sebuah tawa yang meledak darinya
Frieska membulatkan penuh kedua matanya, ia sangat dibuat kaget dengan perkataan pria di depannya, tidak maksudnya di depan atasnya. "Mama? Papa? Sudah gak ada? Jadi tinggal tersisa aku dan kakakku?" Batin Frieska berteriak, ia tak kuasa menahan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
"Sadarlah manusia bodoh! Tidakkah kau sadar, yang menemanimu sedari tadi hanyalah kakakmu sedangkan kedua orang tuamu telah mati sedari tadi!" Sahut pria itu
Frieska menatap kearah Melody yang masih memejamkan kedua matanya sambil tertunduk dan menangis. "AAAAAAAA!!!!" Seketika itu juga, pisau yang sedari tadi Frieska bawa di tangan kanannya ia tusukkan kearah dada kirinya tepat dibagian jantungnya.
"FRIESKA!" Jerit Melody sambil menahan pisau itu sebelum menusuk kearah dada Frieska.
Frieska yang tadinya memejamkan kedua matanya hanya dapat menatap Melody heran "kenapa kak.. Kenapa... Kalau mama sama papa udah gak ada, buat apa kita hidup di dunia seperti ini!" Teriak Frieska sambil meronta-ronta dari pegangan kakaknya.
"Frieska TENANG!" Bentak Melody, seketika Frieska berhenti memberontak. Ia tidak pernah mendengar bentakan dari kakaknya ini, bentakan tersebut membuat Frieska teramat takut bahkan ia tidak bergeming, hanya mematung ketakutan.
"Yang pria itu mau hanyalah kamu Fries... Bahkan mama sama papa aja rela ngorbanin nyawa mereka demi kita, demi kamu dan kakak...." Terang Melody "kalau kamu bunuh diri, itu sama saja kamu nyia-nyiain pengorbanan mama sama papa..." Melody kini menatap dalam-dalam kedua mata adik kesayangannya ini "sekali ini aja dek, dengerin kak Melody... Yang pria ini mau cuma kamu tinggal sama mereka, gak ada yang lain.... Cobalah untuk menerima dia, dia ayah kandung kamu" lanjut Melody panjang lebar
Frieska kembali menatap pria tersebut jijik, lalu kemudian menatap kearah kakaknya lagi "kaak... Bagaimana bisa aku tinggal sama ayah seperti dia? Kalaupun aku tinggal aku mau kakak ikut sama aku.." Pinta Frieska pada kakaknya tersebut.
Melody hanya menggeleng lemah sambil menatap Frieska, ia mencoba tegar, mencoba tidak menangis untuk kedua kalinya demi Frieska adiknya. "maaf tapi Kakak enggak bisa nurutin permintaan kamu Fries.. Yang pria itu mau cuma kamu, hanya kamu, bukan kakak" terang Melody yang mulai membelai lembut rambut Frieska
"Kalau begitu...." Frieska menatap mantap kearah pria tersebut "BIARIN AJA FRIESKA MATI!!!!" Jerit Frieska, lagi-lagi Frieska mencoba menusuk dadanya sendiri dengan pisau yang berada di tangannya.
"Cih...." Pria tersebut tidak tinggal diam, saat ia memajukan tangannya muncullah sebuah bayangan hitam pekat menahan lengan Frieska dan membatalkan proses bunuh dirinya tersebut.
Bayangan hitam itu merasuki tubuh Frieska, sekarang Frieska telah menutup kedua matanya dan bersikap tenang layaknya tidur. Ya ia tertidur dan dengan santainya bayangan hitam itu menggendong Frieska menuju tuannya yang sedari tadi menunggu mereka di atas.
Melody mematung sambil menatap pria tersebut dari bawah lubang "tolong jaga Frieska..." Ujarnya seraya mengalihkan pandangannya kearah tubuh Frieska yang tertidur sambil melayang.
Pria itu mengangguk "Sudah tugasku untuk menjaganya, Imel... Sekarang kau bebas, terima kasih sudah bersusah payah menyelamatkan anak ini..." Ujar Pria tersebut lalu menghilang dari pandangan Melody secara seketika yang membuat tubuh Melody merinding, apakah ia manusia? Atau hantu?
"Begitu rupanya... Frieska maafin kak Melody yang nggak ngasih tau kamu soal ini dari dulu... Sekarang kakak nyesel banget" gumam Melody lirih, sedetik kemudian ia merasa kepalanya pusing bahkan ia tidak dapat menopang tubuhnya lagi. Ia terjatuh ke tanah sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Ugh... Mungkinkah ini waktunya...?" Tanya Melody pada dirinya sendiri, sakit kepala yang teramat ini telah ia rasakan semenjak kehadiran pria tadi. Saat ia bertemu dengan pria itu, kepala Melody pasti akan merasakan sakit baik itu saat bertemu ataupun seusai bertemu.
Saat ini hanya keputus asaan yang ia rasakan, ia merasa tidak ada lagi kesempatan untuk ia hidup di dunia hampa ini. Toh ia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang manusia lemah.
"Hey, jangan tidur aja dong... Ayo keluar" ucap seorang gadis dari atas lubang yang menyodorkan tangan kanannya mencoba meraih tangan Melody.
Melody melihat kearah gadis itu "Vi... Vienny?" Tanya Melody tidak percaya, ia mencoba meraih tangan Vienny, nama gadis yang telah menyelamatkannya.
Dengan sekuat tenaga, Vienny mencoba menarik kuat tangan Melody hingga ia berhasil mengeluarkan Melody dari dalam lubang yang cukup besar itu.
"Kak Melody ngapain sih pake acara tiduran di lubang gitu, kalo ada prajurit dari Darkness baru tau deh..." Ledek Vienny seraya berdiri
Melody hanya bisa duduk ditepian dari lobang yang ada di bawahnya. Ia melamun memutar kembali kejadian yang baru saja terjadi, Frieska telah bebas bersama pria itu yang tidak lain adalah raja Darkness dan juga merupakan ayah kandung dari Frieska.
Melody tidak bisa memaafkan dirinya karena ia sudah menyembunyikan status mereka berdua sebagai kakak adik yang tidak kandung, jadi selama ini Frieska dirawat oleh orang tua Melody, sementara ibu dari Frieska telah meninggal dan tersisa hanya ayahnya saja.
"Mungkin ini yang terbaik buat kamu..." Gumam Melody
"Eh?" Vienny kini telah duduk di samping Melody sambil memperhatikan wajah Melody yang daritadi hanya murung "ada masalah ya kak?" Tanya Vienny sambil terus kedua matanya mencermati raut wajah Melody
"Frieska..." Gumam Melody
"Aaahh... Begitu..." Vienny mengangguk paham akan masalah yang dihadapi temannya ini, walau berbeda 2 tahun namun Vienny menganggap Melody sebagai kakak juga sebagai temannya bahkan sebagai Sahabat sejatinya. "Rupanya Frieska sudah pulang bersama aya
hnya ya?" Tebak Vienny
Melody mengangguk kecil sambil tertunduk ia memperhatikan lobang besar yang berada tepat di bawah kakinya, otaknya kembali memutar video-video ingatannya tentang kebersamaan dirinya beserta Frieska.
"Frieska... Terima kasih sudah jadi adik kecilku, adik yang kusayangi, adik yang bawel cerewet dll, walau sifat kamu gitu kakak tetep bangga punya adik kayak kamu Fries... Kamu yang udah bisa bikin kakak tertawa, bahagia, bahkan berhasil keluar dari kesedihan saat tau mama dan papa telah meninggal...." Lirih Melody ntah pada siapa "Terima kasih, Frieska..." Lanjutnya
Di sisi lain, terlihat wajah Frieska yang tersenyum walau ia sedang di bawah alam sadarnya.
Pria yang dari tadi menatap lembut kearah Frieska hanya dapat tersenyum tipis "Dasar Melody... Dia berhasil memastikan pada Frieska kalau dia adalah kakak kandungnya, dasar Imel..." Gumam pria tersebut, tangan kanannya dengan sigap membelai rambut Frieska.
SCHOOL OF CHAOS
NOW START!!!!!!
[Author : Seena]
Twitter : @SeenaGL
*Ciet, Plomosi* #PLAAKKK *digebuginReaderz*
Note :
Pakai hastag #SOC_Next kalo mau ff ini di next ke twitter ku ya
Tag :
Fanfict JKT48, Fanfiction JKT48, Cerbung JKT48, Fanfict Sinka JKT48, Fanfict Melody JKT48, Delusiin Oshi, Delusiin JKT48, Delusi Oshi, Delusi JKT48, Cerita JKT48, Cerita Bersambung JKT48
[Cast : ]
~ All Member JKT48
~ All Ex Member JKT48
~ Alvin Y
~ Alexander Samuel
~ Aloysio Tony Roberto Diaz
~ Beberapa guru sklh yg ga guna XD
[WARNING!!!]
Genre-nya gak nentu, ada Action, Romance (dikit), Humor (maybe), trus member JKT48 jadi sableg, sengklek, idiot, dll XD
Ni FF tadinye mau gue kasih spin off avatar : legend of aang, tp kgk jadi :v jadinya gue kasih judul School Of Chaos, soalnye ntar critanye mirip ama Naruto *Eh, kok gue beberin yak?* *Ditimpuq Readers*
[PROLOGUE]
Beberapa tahun yang lalu...
Di sebuah daratan terpencil layaknya sebuah pulau yang tidak berpenghuni, tidak terawat, dan minim penerangan, berjalanlah seseorang dengan gagah berani dan juga memakai jaket berwarna kehitaman.
Pria tersebut berjalan tegap menuju sebuah cahaya yang kecil berada di bawah tanah, sesampainya di tempat bercahaya tersebut pria itu menjentikkan jarinya.
'GABRUUUUKKKK'
Seketika itu juga tanah yang tadinya bercahaya menjadi runtuh, benar saja di bawah sana sudah ada seorang gadis yang seumuran dengan pria tersebut dan juga seorang anak kecil yang setia berdiri dibelakang gadis tersebut.
"A... Apa maumu..?" Gadis itu mencoba sebisa mungkin agar suara yang ia keluarkan tidak bergetar, ia mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan perasaan takut dan khawatirnya.
"Hahaha... Seperti biasa, Melody..." Ujar pria tersebut datar menggantungkan kalimatnya, sebuah senyum jahat terukir di wajah rupawan yang ia miliki.
Gadis bernama Melody tersebut terdiam. Ia membisu. Tepatnya tidak ada kata-kata lagi yang bisa ia keluarkan, ia takut, teramat takut, yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah memeluk adiknya dengan erat. Ia tidak mau kehilangan adik satu-satunya ini, hanya adiknya ini yang tersisa dari keluarga besar Melody.
Ya, seluruh keluarga besar Melody telah di bunuh. Tidak, tepatnya terbunuh akibat peperangan besar. Peperangan yang hanya menyisakan dirinya dan adiknya saat ini. Melody menatap tajam kedua mata pria di depannya seakan ingin melawan, namun apa daya Melody tidak dapat mengimbangi kekuatannya, bagaimana 'pun juga ia akan kalah, karena kekuatan yang ia punya saat ini terbilang biasa-biasa saja tidak terlalu hebat, namun tidak terlalu lemah standar-standar saja.
"Oh ayolah..." Bujuk pria tersebut masih terkekeh geli saat melihat tatapan Melody, kedua matanya yang berwarna merah pekat membalas tatapan Melody dengan lebih tajam "serahkan adikmu, maka nyawamu akan selamat... Imel..." Ujar Pria tersebut disertai sebuah seringai licik terpancar dari raut wajahnya.
"Kaaa~ Frieska takut..."
Gadis kecil tersebut memeluk erat kakaknya, seakan tidak ingin melepaskannya. Saking takutnya sudah tidak terhitung berapa kalinya gadis mungil ini buang air kecil di celana yang ia pakai saat ini, termasuk saat ini juga ia sedang buang air kecil.
Melody menatap iba kearah adik kesayangannya ini, sebelah tangannya membelai rambut adiknya ini. "Fries..." Panggil Melody lirih, ia tak bisa menahan bendungan airmata yang sudah nyaris jatuh dari kedua pelupuk matanya, bahkan bobol sudah pertahanan yang ia miliki sontak seisi airmatanya keluar membasahi kedua pipi halus yang ia miliki.
Melody segera memeluk adiknya yang lebih kecil 10 tahun darinya, otomatis baju yang dikenakan Frieska menjadi basah akibat airmata Melody yang sudah bocor sedari tadi.
"Tidak ada yang menyuruh kalian menangis dasar manusia lemah!" Sahut pria itu dengan kasar
"Kalo gitu, biarkan Frieska yang pergi kak.. Kakak tolong jaga mamah sama papah, Frieska akan tanggung semuanya" ujar gadis kecil bernama Frieska disela-sela isak tangisnya
"Frieska..." Panggil Melody lirih, perlahan namun pasti Frieska melepaskan pelukan mereka sambil mengusap airmata kakaknya ini.
"HAHAHA!!! Manusia BODOH! Mamah? Papah? Tidak ada satupun dari mereka yang selamat!" Sahut pria tersebut disertai sebuah tawa yang meledak darinya
Frieska membulatkan penuh kedua matanya, ia sangat dibuat kaget dengan perkataan pria di depannya, tidak maksudnya di depan atasnya. "Mama? Papa? Sudah gak ada? Jadi tinggal tersisa aku dan kakakku?" Batin Frieska berteriak, ia tak kuasa menahan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
"Sadarlah manusia bodoh! Tidakkah kau sadar, yang menemanimu sedari tadi hanyalah kakakmu sedangkan kedua orang tuamu telah mati sedari tadi!" Sahut pria itu
Frieska menatap kearah Melody yang masih memejamkan kedua matanya sambil tertunduk dan menangis. "AAAAAAAA!!!!" Seketika itu juga, pisau yang sedari tadi Frieska bawa di tangan kanannya ia tusukkan kearah dada kirinya tepat dibagian jantungnya.
"FRIESKA!" Jerit Melody sambil menahan pisau itu sebelum menusuk kearah dada Frieska.
Frieska yang tadinya memejamkan kedua matanya hanya dapat menatap Melody heran "kenapa kak.. Kenapa... Kalau mama sama papa udah gak ada, buat apa kita hidup di dunia seperti ini!" Teriak Frieska sambil meronta-ronta dari pegangan kakaknya.
"Frieska TENANG!" Bentak Melody, seketika Frieska berhenti memberontak. Ia tidak pernah mendengar bentakan dari kakaknya ini, bentakan tersebut membuat Frieska teramat takut bahkan ia tidak bergeming, hanya mematung ketakutan.
"Yang pria itu mau hanyalah kamu Fries... Bahkan mama sama papa aja rela ngorbanin nyawa mereka demi kita, demi kamu dan kakak...." Terang Melody "kalau kamu bunuh diri, itu sama saja kamu nyia-nyiain pengorbanan mama sama papa..." Melody kini menatap dalam-dalam kedua mata adik kesayangannya ini "sekali ini aja dek, dengerin kak Melody... Yang pria ini mau cuma kamu tinggal sama mereka, gak ada yang lain.... Cobalah untuk menerima dia, dia ayah kandung kamu" lanjut Melody panjang lebar
Frieska kembali menatap pria tersebut jijik, lalu kemudian menatap kearah kakaknya lagi "kaak... Bagaimana bisa aku tinggal sama ayah seperti dia? Kalaupun aku tinggal aku mau kakak ikut sama aku.." Pinta Frieska pada kakaknya tersebut.
Melody hanya menggeleng lemah sambil menatap Frieska, ia mencoba tegar, mencoba tidak menangis untuk kedua kalinya demi Frieska adiknya. "maaf tapi Kakak enggak bisa nurutin permintaan kamu Fries.. Yang pria itu mau cuma kamu, hanya kamu, bukan kakak" terang Melody yang mulai membelai lembut rambut Frieska
"Kalau begitu...." Frieska menatap mantap kearah pria tersebut "BIARIN AJA FRIESKA MATI!!!!" Jerit Frieska, lagi-lagi Frieska mencoba menusuk dadanya sendiri dengan pisau yang berada di tangannya.
"Cih...." Pria tersebut tidak tinggal diam, saat ia memajukan tangannya muncullah sebuah bayangan hitam pekat menahan lengan Frieska dan membatalkan proses bunuh dirinya tersebut.
Bayangan hitam itu merasuki tubuh Frieska, sekarang Frieska telah menutup kedua matanya dan bersikap tenang layaknya tidur. Ya ia tertidur dan dengan santainya bayangan hitam itu menggendong Frieska menuju tuannya yang sedari tadi menunggu mereka di atas.
Melody mematung sambil menatap pria tersebut dari bawah lubang "tolong jaga Frieska..." Ujarnya seraya mengalihkan pandangannya kearah tubuh Frieska yang tertidur sambil melayang.
Pria itu mengangguk "Sudah tugasku untuk menjaganya, Imel... Sekarang kau bebas, terima kasih sudah bersusah payah menyelamatkan anak ini..." Ujar Pria tersebut lalu menghilang dari pandangan Melody secara seketika yang membuat tubuh Melody merinding, apakah ia manusia? Atau hantu?
"Begitu rupanya... Frieska maafin kak Melody yang nggak ngasih tau kamu soal ini dari dulu... Sekarang kakak nyesel banget" gumam Melody lirih, sedetik kemudian ia merasa kepalanya pusing bahkan ia tidak dapat menopang tubuhnya lagi. Ia terjatuh ke tanah sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Ugh... Mungkinkah ini waktunya...?" Tanya Melody pada dirinya sendiri, sakit kepala yang teramat ini telah ia rasakan semenjak kehadiran pria tadi. Saat ia bertemu dengan pria itu, kepala Melody pasti akan merasakan sakit baik itu saat bertemu ataupun seusai bertemu.
Saat ini hanya keputus asaan yang ia rasakan, ia merasa tidak ada lagi kesempatan untuk ia hidup di dunia hampa ini. Toh ia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang manusia lemah.
"Hey, jangan tidur aja dong... Ayo keluar" ucap seorang gadis dari atas lubang yang menyodorkan tangan kanannya mencoba meraih tangan Melody.
Melody melihat kearah gadis itu "Vi... Vienny?" Tanya Melody tidak percaya, ia mencoba meraih tangan Vienny, nama gadis yang telah menyelamatkannya.
Dengan sekuat tenaga, Vienny mencoba menarik kuat tangan Melody hingga ia berhasil mengeluarkan Melody dari dalam lubang yang cukup besar itu.
"Kak Melody ngapain sih pake acara tiduran di lubang gitu, kalo ada prajurit dari Darkness baru tau deh..." Ledek Vienny seraya berdiri
Melody hanya bisa duduk ditepian dari lobang yang ada di bawahnya. Ia melamun memutar kembali kejadian yang baru saja terjadi, Frieska telah bebas bersama pria itu yang tidak lain adalah raja Darkness dan juga merupakan ayah kandung dari Frieska.
Melody tidak bisa memaafkan dirinya karena ia sudah menyembunyikan status mereka berdua sebagai kakak adik yang tidak kandung, jadi selama ini Frieska dirawat oleh orang tua Melody, sementara ibu dari Frieska telah meninggal dan tersisa hanya ayahnya saja.
"Mungkin ini yang terbaik buat kamu..." Gumam Melody
"Eh?" Vienny kini telah duduk di samping Melody sambil memperhatikan wajah Melody yang daritadi hanya murung "ada masalah ya kak?" Tanya Vienny sambil terus kedua matanya mencermati raut wajah Melody
"Frieska..." Gumam Melody
"Aaahh... Begitu..." Vienny mengangguk paham akan masalah yang dihadapi temannya ini, walau berbeda 2 tahun namun Vienny menganggap Melody sebagai kakak juga sebagai temannya bahkan sebagai Sahabat sejatinya. "Rupanya Frieska sudah pulang bersama aya
hnya ya?" Tebak Vienny
Melody mengangguk kecil sambil tertunduk ia memperhatikan lobang besar yang berada tepat di bawah kakinya, otaknya kembali memutar video-video ingatannya tentang kebersamaan dirinya beserta Frieska.
"Frieska... Terima kasih sudah jadi adik kecilku, adik yang kusayangi, adik yang bawel cerewet dll, walau sifat kamu gitu kakak tetep bangga punya adik kayak kamu Fries... Kamu yang udah bisa bikin kakak tertawa, bahagia, bahkan berhasil keluar dari kesedihan saat tau mama dan papa telah meninggal...." Lirih Melody ntah pada siapa "Terima kasih, Frieska..." Lanjutnya
Di sisi lain, terlihat wajah Frieska yang tersenyum walau ia sedang di bawah alam sadarnya.
Pria yang dari tadi menatap lembut kearah Frieska hanya dapat tersenyum tipis "Dasar Melody... Dia berhasil memastikan pada Frieska kalau dia adalah kakak kandungnya, dasar Imel..." Gumam pria tersebut, tangan kanannya dengan sigap membelai rambut Frieska.
SCHOOL OF CHAOS
NOW START!!!!!!
Jumat, 13 November 2015
Fanfiction JKT48 Mantan Terindah [Prologue]
Mantan Terindah
By @SeenaGL
Woooo.... Ini fanfiction-ku terinspirasi dari lagunya si Isyana Sarasvati (bener gk? :v).. Semoga genre sadnya kerasa! Thank's yg udh mau nyempetin baca...!
[Prologue]
Seorang pria tengah duduk terdiam di salah satu café ternama di kota Jakarta. Pandangannya melayang entah kemana, pikirannya hampa nan kosong, matanya bertatapan kosong kearah langit melalui jendela café yang besar, sementara kedua tangannya memegangi sebuah foto berukuran sedang.
Lama kelamaan perlahan namun pasti butir demi butiran air mata menetes dari kedua pelupuk mata pria tersebut, ia tampak meremas foto gadis cantik yang sedari tadi di pegangnya.
Otaknya kembali memutar history tentang kebersamaannya bersama sang pujaan hati selama kurang lebih tiga tahun. Lama kelamaan butiran air mata itu kembali menetes, tetesan air mata pria tersebut kini jatuh ke jaket berwarna merah-hitam yang sedang ia pakai.
Kini pria tersebut menutup kedua matanya, mencoba menghayati dan mengenang kebersamaannya bersama sang gadis. Ia memejamkan matanya, namun tetes demi tetes air mata masih mengalir dari kedua sudut matanya.
"Elaine..." Lirihnya nyaris tak terdengar. Ia kembali memutar kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu, gadis bernama Elaine tersebut memutuskan hubungan special mereka hanya dalam sekejap.
Padaha pria tersebut yakin kalau gadis itu adalah jodohnya untuk selama-lamanya, namun ternyata pendapat pria ini salah. Gadis yang bernama Elaine ini tertangkap basah sedang bersama pria lain di salah satu mall di Jakarta.
Tetesan demi tetesan air mata jatuh sempurna di kedua pipi pria tersebut, ia hanya dapat mencoba menenangkan dirinya. Segampang itukah gadis tersebut melupakan dirinya? Atau apakah gadis tersebut tidak menyayanginya?
Benar... Selama ini tepatnya belakangan ini pria tersebut hanya dimintai tolong mengerjakan tugas-tugas yang di berikan oleh guru mereka. Bahkan, saat sang pria ingin mengajak gadis tersebut berjalan-jalan selalu saja ada alasan untuk sang gadis menolak ajakannya.
"Hey..."
Sebuah tangan yang putih nan halus mendarat mulus di pundak pria yang tengah menangis ini, sang pria kini dengan cepat menghapus sisa-sisa air matanya dengan kedua tangan dan menatap kearah gadis yang baru saja menyapanya ini.
"Kak Melody...?" Pria yang tadinya menangis kini memeluk erat gadis yang berada di hadapannya, seperti tidak ingin kehilangan satu-satunya benda paling berharga di dunia.
Sementara sang gadis hanya bisa kaget dengan apa yang dilakukan sang pria malang tersebut "ka.. Kamu kenapa dek? Apa ada masalah lagi?" Gadis tersebut hanya dapat mencoba menenangkan sang pria yang umurnya lebih muda 1 tahun darinya.
"Elaine...." Pria tersebut mencoba untuk menggeleng cepat "Eng... Enggak ada"
Gadis yang bernama Melody hanya dapat melepaskan pelukan mereka secara perlahan namun pasti. Ia menatap kedua buah mata adik kesayangannya ini dengan dalam mencoba mencari tau permasalahan "kamu kenapa...? Jam sebelas malem begini belum pulang... Kakak kira kamu kenapa-kenapa tau dek..." Melody hanya bisa melampiaskan kecemasan dan kekhawatirannya yang sudah ia rasakan sejak siang.
Sang adik hanya bisa menggeleng sambil tertunduk. Pria ini menghela nafas panjang dan mengusap sisa-sisa tetesan air mata miliknya yang masih terjatuh.
"Kenapa... Air mata ini gak bisa berhenti? Apakah ini yang dinamakan air mata kekecewaan?" Batin sang pria, kedua bola matanya menatap dalam-dalam foto yang sedari tadi berada di meja. "Elaine... Aku gak nyangka kamu sejahat ini Elaine, padahal aku setia sama kamu, aku selalu ada buat kamu, aku selalu nolongin kamu.. Tapi apakah ini balasanmu? Apa ini yang kamu bilang janji kita? Apa benar kamu sudah tidak suka sama aku? Atau kamu benar-benar tidak pernah menyukaiku?"
"Kalian ada masalah apa?"
Kini sang pria menatap wajah kakaknya yang cantik, ia menatap kedua bola mata yang indah kepunyaan kakaknya tersebut. Dengan susah payah ia mencoba mengukir sebuah senyum penuh kehangatan untuk kakaknya sambil menggeleng lemah "aku gak apa kak.. Kakak tenang aja..." Ujar sang Pria sambil meremas foto yang berada di atas meja
"Kalau memang ini akhirnya, biarlah aku hidup seperti ini... Kumohon menjauhlah dari hidupku Elaine... Biarlah semuanya hanya menjadi sebuah history yang terkubur sedalam-dalamnya, selama-lamanya" batin sang pria, kini tangan kanannya yang dipakai untuk meremas foto tersebut melemparkan gumpalan kertas yang sebelumnya rapih kearah tong sampah berjarak sekitar 10 meter dari jaraknya kini.
Melody kini menatap wajah Adiknya yang tampak sangat kecewa saat melemparkan foto tersebut kedalam tong sampah, kini ia mengerti mengapa sifat adiknya belakangan ini sangat berbeda dari biasanya yang ceria, humoris bahkan periang menjadi pendiam, tukang bengong dan semacamnya. "Dek... Kalo emang kamu belum mau menceritakannya ke kakak, yaudah gakpapa... Tapi kakak mohon dengan sangat, kamu jangan jadi seperti ini..." Ujar Melody yang memegang lengan satu-satunya adik lelaki yang ia punyai.
Pria tersebut mengangguk senang saat kakaknya ini dapat mengerti perasaannya saat ini, ia kembali menatap tong sampah yang baru saja berisikan sebuah foto yang ia remas menjadi sebuah bola kecil "bila memang ini ujungnya... Kau kan tetap ada di dalam jiwaku... Elaine..." Batin pria tersebut
Melody menarik lengan adiknya yang masih membayangkan sosok Elaine agar dapat mencari udara segar. Angin malam berhembus dengan kencang seakan menembus kulit, menusuk tulang. Hempasan angin malan ini membawa rambut Melody menari kesana-kesini sesuai dengan hempasan angin malam.
Sementara itu di dalam café terlihat seorang gadis berusia tak jauh dari sang pria berjalan dengan santai kearah tong sampah. Ia tampak memungut sebuah gumpalan kertas dari dalamnya dan membukanya.
"Sam... Maafin aku, aku minta maaf banget Sam... Aku nyesel... Aku mohon kamu ngerti dengan apa yang aku alami saat ini, aku gak mau kamu nyesel nantinya Sam... Aku berjanji gak akan berpaling dari kamu.. I Love You Sam.." Lirih sang gadis lalu berjalan keluar dari café dengan terus membawa fotonya yang sudah rusak akibat di remas oleh sang pria bernama Samuel tadi.
MANTAN TERINDAH
NOW START !!!
By @SeenaGL
Woooo.... Ini fanfiction-ku terinspirasi dari lagunya si Isyana Sarasvati (bener gk? :v).. Semoga genre sadnya kerasa! Thank's yg udh mau nyempetin baca...!
[Prologue]
Seorang pria tengah duduk terdiam di salah satu café ternama di kota Jakarta. Pandangannya melayang entah kemana, pikirannya hampa nan kosong, matanya bertatapan kosong kearah langit melalui jendela café yang besar, sementara kedua tangannya memegangi sebuah foto berukuran sedang.
Lama kelamaan perlahan namun pasti butir demi butiran air mata menetes dari kedua pelupuk mata pria tersebut, ia tampak meremas foto gadis cantik yang sedari tadi di pegangnya.
Otaknya kembali memutar history tentang kebersamaannya bersama sang pujaan hati selama kurang lebih tiga tahun. Lama kelamaan butiran air mata itu kembali menetes, tetesan air mata pria tersebut kini jatuh ke jaket berwarna merah-hitam yang sedang ia pakai.
Kini pria tersebut menutup kedua matanya, mencoba menghayati dan mengenang kebersamaannya bersama sang gadis. Ia memejamkan matanya, namun tetes demi tetes air mata masih mengalir dari kedua sudut matanya.
"Elaine..." Lirihnya nyaris tak terdengar. Ia kembali memutar kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu, gadis bernama Elaine tersebut memutuskan hubungan special mereka hanya dalam sekejap.
Padaha pria tersebut yakin kalau gadis itu adalah jodohnya untuk selama-lamanya, namun ternyata pendapat pria ini salah. Gadis yang bernama Elaine ini tertangkap basah sedang bersama pria lain di salah satu mall di Jakarta.
Tetesan demi tetesan air mata jatuh sempurna di kedua pipi pria tersebut, ia hanya dapat mencoba menenangkan dirinya. Segampang itukah gadis tersebut melupakan dirinya? Atau apakah gadis tersebut tidak menyayanginya?
Benar... Selama ini tepatnya belakangan ini pria tersebut hanya dimintai tolong mengerjakan tugas-tugas yang di berikan oleh guru mereka. Bahkan, saat sang pria ingin mengajak gadis tersebut berjalan-jalan selalu saja ada alasan untuk sang gadis menolak ajakannya.
"Hey..."
Sebuah tangan yang putih nan halus mendarat mulus di pundak pria yang tengah menangis ini, sang pria kini dengan cepat menghapus sisa-sisa air matanya dengan kedua tangan dan menatap kearah gadis yang baru saja menyapanya ini.
"Kak Melody...?" Pria yang tadinya menangis kini memeluk erat gadis yang berada di hadapannya, seperti tidak ingin kehilangan satu-satunya benda paling berharga di dunia.
Sementara sang gadis hanya bisa kaget dengan apa yang dilakukan sang pria malang tersebut "ka.. Kamu kenapa dek? Apa ada masalah lagi?" Gadis tersebut hanya dapat mencoba menenangkan sang pria yang umurnya lebih muda 1 tahun darinya.
"Elaine...." Pria tersebut mencoba untuk menggeleng cepat "Eng... Enggak ada"
Gadis yang bernama Melody hanya dapat melepaskan pelukan mereka secara perlahan namun pasti. Ia menatap kedua buah mata adik kesayangannya ini dengan dalam mencoba mencari tau permasalahan "kamu kenapa...? Jam sebelas malem begini belum pulang... Kakak kira kamu kenapa-kenapa tau dek..." Melody hanya bisa melampiaskan kecemasan dan kekhawatirannya yang sudah ia rasakan sejak siang.
Sang adik hanya bisa menggeleng sambil tertunduk. Pria ini menghela nafas panjang dan mengusap sisa-sisa tetesan air mata miliknya yang masih terjatuh.
"Kenapa... Air mata ini gak bisa berhenti? Apakah ini yang dinamakan air mata kekecewaan?" Batin sang pria, kedua bola matanya menatap dalam-dalam foto yang sedari tadi berada di meja. "Elaine... Aku gak nyangka kamu sejahat ini Elaine, padahal aku setia sama kamu, aku selalu ada buat kamu, aku selalu nolongin kamu.. Tapi apakah ini balasanmu? Apa ini yang kamu bilang janji kita? Apa benar kamu sudah tidak suka sama aku? Atau kamu benar-benar tidak pernah menyukaiku?"
"Kalian ada masalah apa?"
Kini sang pria menatap wajah kakaknya yang cantik, ia menatap kedua bola mata yang indah kepunyaan kakaknya tersebut. Dengan susah payah ia mencoba mengukir sebuah senyum penuh kehangatan untuk kakaknya sambil menggeleng lemah "aku gak apa kak.. Kakak tenang aja..." Ujar sang Pria sambil meremas foto yang berada di atas meja
"Kalau memang ini akhirnya, biarlah aku hidup seperti ini... Kumohon menjauhlah dari hidupku Elaine... Biarlah semuanya hanya menjadi sebuah history yang terkubur sedalam-dalamnya, selama-lamanya" batin sang pria, kini tangan kanannya yang dipakai untuk meremas foto tersebut melemparkan gumpalan kertas yang sebelumnya rapih kearah tong sampah berjarak sekitar 10 meter dari jaraknya kini.
Melody kini menatap wajah Adiknya yang tampak sangat kecewa saat melemparkan foto tersebut kedalam tong sampah, kini ia mengerti mengapa sifat adiknya belakangan ini sangat berbeda dari biasanya yang ceria, humoris bahkan periang menjadi pendiam, tukang bengong dan semacamnya. "Dek... Kalo emang kamu belum mau menceritakannya ke kakak, yaudah gakpapa... Tapi kakak mohon dengan sangat, kamu jangan jadi seperti ini..." Ujar Melody yang memegang lengan satu-satunya adik lelaki yang ia punyai.
Pria tersebut mengangguk senang saat kakaknya ini dapat mengerti perasaannya saat ini, ia kembali menatap tong sampah yang baru saja berisikan sebuah foto yang ia remas menjadi sebuah bola kecil "bila memang ini ujungnya... Kau kan tetap ada di dalam jiwaku... Elaine..." Batin pria tersebut
Melody menarik lengan adiknya yang masih membayangkan sosok Elaine agar dapat mencari udara segar. Angin malam berhembus dengan kencang seakan menembus kulit, menusuk tulang. Hempasan angin malan ini membawa rambut Melody menari kesana-kesini sesuai dengan hempasan angin malam.
Sementara itu di dalam café terlihat seorang gadis berusia tak jauh dari sang pria berjalan dengan santai kearah tong sampah. Ia tampak memungut sebuah gumpalan kertas dari dalamnya dan membukanya.
"Sam... Maafin aku, aku minta maaf banget Sam... Aku nyesel... Aku mohon kamu ngerti dengan apa yang aku alami saat ini, aku gak mau kamu nyesel nantinya Sam... Aku berjanji gak akan berpaling dari kamu.. I Love You Sam.." Lirih sang gadis lalu berjalan keluar dari café dengan terus membawa fotonya yang sudah rusak akibat di remas oleh sang pria bernama Samuel tadi.
MANTAN TERINDAH
NOW START !!!
Fanfiction JKT48 Sok Kenal Sok Dekat [Part 2]
Sok Kenal Sok Dekat
.
.
[Part 2]
.
.
"Lepasin!" Teriaknya sambil melepaskan tanganku dengan paksa. "Kakak jahat...!" Sahut Nabilah, ia pun berlari ke sebrang jalanan
Namun...
Bruuuukkkkk
Saat Nabilah meneriakkan kalimat itu, ada sebuah mobil Avanza dengan kecepatan tinggi melintas dan menabrak Nabilah.
"Shit, Nabilah!!!" Teriakku, kini aku berlari menuju tubuh Nabilah yang tidak berdaya. Ia tergeletak di jalanan dengan darah yang mengalir deras
"Bil... Bilah!" Teriakku, kini kutopang kepalanya di paha kananku sambil tanganku menepuk-nepuk pipinya.
Sudah banyak orang yang berdatangan melihat ke tempat kejadian tersebut dan mengelilingi kami.
"Maafin kakak bil... Maaf..." Ujarku lirih, tak kusadari airmataku menetes terkena wajah Nabilah
"Ka.... Kakak.... Kakak nangis?" Tanya Nabilah dengan kaku.
Ku usap airmata yang mengalir. "Hmm" aku mengangguk "teleport!" Ucapku
Kini aku dan Nabilah sudah berada di lobby rumah sakit yang cukup terkenal di Jakarta.
"Ca... Caranya gimana kak?" Tanya Nabilah
"Ada deh..." Aku mengulurkan lidahku, kini ku bawa lari Nabilah dengan cara kugendong ala bridal style (yg biasa di film pangeran and putri gitu)
"Sus! Sus! Dok! Tolong! Siapa aja!" Sahutku, kulihat beberapa suster mendatangi kami.
"Ada apa dik?" Tanya salah satu suster
"Tolong... Korban tabrakan..." Kataku, suster yang satu telah membawa kasur dorong. Segera saja ku letakkan Nabilah ke arah Kasur tersebut dan di dorong oleh suster menuju salah satu ruangan.
Ruangan tersebut ditulis dengan nama 'ICU'
"Maaf dik.. Adik tunggu sini, biar gadis itu kami yang tangani" ucap Suster itu lembut. Aku hanya bisa mengangguk pasrah, kini aku menduduki kursi tunggu yang ada di sana.
Sesekali kutatap tv yang ada di sudut ruangan.
"Berita terkini.... Sudah terjadi tabrakan antara seorang gadis belia dengan sebuah mobil Avanza berplat B **** ***. Korban langsung dibawa lari oleh seorang pemuda entah kemana." Ucap sang Reporter
Aku tersenyum kecil
"Di sana kami menemukan sebuah motor ninja berwarna merah putih hitam. Dan sebuah korban lain di dalam gang gelap" lanjut sang reporter sambil menuju korban si preman bertubuh kekar
"Apa yang sedang anda lakukan disini?" Tanya sang Reporter
"Kami berdua sedang berjalan-jalan hingga pemuda itu datang" sahut si Kekar
Aku yang mulai geram langsung berdiri "cih... Teleport!" Aku menteleport diriku menuju ke mulut gang gelap tersebut.
"Lalu, siapakah pemuda itu? Apa anda mengenalnya?" Tanya sang reporter
"Tidak" jawab singkat si kekar
"Menurut anda kenapa anda sampai terluka bakar seperti ini?" Tanya Reporter
"Karena dia psikopat!" Sahut si Kekar "belum lagi ia meninju saya dengan kekuatan api yang ia miliki. Saya menjadi heran karenanya" lanjutnya
Aku segera mendatangi si Kekar dan menepuk pundaknya. "Siapa yang anda bilang psikopat? Dasar bedebah!" Sahutku, kini kutinju wajahnya dengan tanganku.
"Ukh!"
"Anda sudah nyaris memperkosa adik saya. Bagaimana saya akan tinggal diam?" Tanyaku, kini kutatap ia yang sedang tersungkur.
"Kejadian tabrakan itu juga gara-gara anda. Anda yang berbuat demikian sehingga adik saya panik dan menyebrang jalan!" Sahutku lagi. Aku 'pun yang geram menarik kerah bajunya
"Ba... Baiklah! Jika kau mau ganti rugi akan saya bayar! Berapapun juga! Asalkan anda tidak menyakiti saya!" Sahut si Kekar
"Nyawa tidak bisa dibayar pakai uang!" Sahutku, kembali kutinju wajahnya. "Nyawa dibayar dengan nyawa!" Sahutku lagi-lagi kutinju wajahnya tersebut.
"Grrr.... Cih..." Aku mengeram sedikit lalu melepaskan tanganku dari kerah bajunya "pergilah... Sebelum anda benar-benar kuhabisi" ucapku, dengan langkah pelan aku menuju motorku dan memakai helm full face.
Ku lajukan motorku menuju rumah sakit dimana Nabilah di rawat.
Setelah kuparkirkan motorku aku langsung berlari kearah resepsionis. "Permisi mbak... Gini, dimana kamar pasien bernama Nabilah Ratna Ayu Azalia?" Tanyaku to the point
"Baiklah, saya periksa dulu.." Ia menggantungkan kalimatnya dan membuka daftar pasien. "Kamar nomor 48 dik... Eh? Dik???" Tanyanya. Mungkin ia kaget karena aku langsung teleport menuju kamar bernomor 48 itu.
Ku ketok perlahan pintu kamar, "masuk"
Ku buka pintu kamar dan kudapati Nabilah yang sedang di infus tangannya dan mendapat beberapa luka memar hingga baret.
"Hai..." Sapaku
"...."
"Maafin kakak ya... Karena kakak lalai kamu jadi kayak gini..." Ucapku, kini kututup pintu kamar tersebut dan mulai duduk di kursi tunggu pasien.
"...."
Ia masih tidak menjawab
"Kamu marah banget sama kakak ya?" Tanyaku
Ia menggeleng pelan
"Aku gak bisa marah sama orang yang ku sayangin. Maaf kak, tadi aku heran sama kekuatan kakak jadinya aku langsung lari gitu aja" jelasnya
Aku mengangguk dan memegang tangannya yang bebas dari infus. "Bil... Lain kali jangan gitu ya.. Maaf kakak belum bisa cerita sama kamu tentang kakak sebenarnya" kataku
Ia mengangguk "lalu, apa sekarang kakak bisa ceritain ke aku?" Tanya Nabilah
Aku tertunduk, lalu mengambil nafas panjang dan membuangnya. Kini kutatap wajah Nabilah dengan hangat "sebenarnya... Kakak itu dicer" kataku singkat
"Ka... Kakak Dicer!?" Teriaknya tak percaya, aku hanya mengangguk.
"Ya..." Jawabku
"Jadi, siapa kakak sebenarnya?" Tanya Nabilah
"Aku... The V" kataku dengan polos
"Jadi, V for Vito?" Tanya Nabilah, sedangkan aku mengangguk lagi. "Kenapa kakak gak cerita? Aku seneng banget tau ngeliat kakak pas war.. Keren!" Sahut Nabilah
Kini aku tersenyum kecil mendengar perkataan itu keluar dari mulutnya. "Be.. Benarkah? Makasih..." Jawabku disertai senyumku yang mengembang
[Author POV]
Sementara itu di SMA J
[Shania POV]
Sudah beberapa menit kutatap terus jam tanganku sambil kuhentak-hentakkan kaki kananku. Aku menunggu kehadiran kedua adikku itu, tidak bukan adik sungguhan. Maksudku adikku, ya Nabilah dan Vito. Aku tak bisa membohongi perasaanku yang tidak enak, namun aku terus mencoba berfikir positive.
"Kak Nju.. Kapan mulai?" Ujar Jeje sambil menepuk bahuku
Aku tersentak kaget dan menengok kearahnya tak lupa kuukir senyumku "kayaknya sekarang aja" jawabku
Jeje langsung bersedih "trus, Nabilah sama Vito gimana?" Tanya Jeje
"Emm.. Maaf tapi MOS harus segera dimulai..." Kataku, dengan cepat kunaiki panggung di lapangan yang khusus buat pengumuman.
Kutatap seluruh anak-anak MOS dengan bangga "selamat pagi adek-adek!!" Sapaku dengan semangat
"Pagii kaaaaaa"
"Wahh... Semangat banget nih.. Udah semangat belom buat MOS nya?!!" Sahutku lagi
"Udaahhh dongggggg"
"Wah........."
Braaakkkk!!!!
Belum ku selesaikan kalimatku, terlihat pintu pagar sekolah yang sudah ditutup di dobrak secara paksa. Dan terlebih lagi aku melihat satpam nya telah terjatuh lemah, sontak mataku membulat.
Anak-anak MOS segera berlarian mencari tempat sembunyi. Dari kejauhan aku dapat melihat mereka. Ya mereka dari SMA T, tepatnya Dicer SMA T
"SELAMAT HARI MOS!!!!!" Sahut ketua Dicer tersebut.
Aku dengan cepat menuruni panggung dan menemui Jeje, terlihat wajah Jeje sudah sangat cemas.
"Kak Nju... Bagaimana ini?" Tanya Jeje
"Hmm... Gini aja, kamu lari... Cepet lari!" Kataku sambil mendorong-dorong Jeje.
"Trus kakak gimana?" Tanya Jeje sambil menahan doronganku
"Gampanglah. Kakak bakal ngalihin perhatian dulu" kataku santai
[Axel POV]
Aku melihat kearah pintu gerbang yang sudah hancur lebur dan segrombolan orang memasuki area sekolah secara paksa
"SELAMAT HARI MOS!!!!!" Sahut salah satu dari mereka
Mataku langsung tertuju pada seorang gadis yang mencoba mendekati mereka, setelah kuhitung mereka ternyata ada 5 orang.
"Sh... Shania?" Gumamku sambil memperhatikan wajah gadis itu.
Aku langsung berlari mendekat.
Kini kulihat Shania sedang berdebat dengan salah satu dari mereka. Kulihat lelaki tersebut mencekik Shania, amarahku tak bisa kutahan.
Aku langsung berlari menuju lelaki itu "teleport!" Aku menteleport diriku dan muncul di depannya. Langsung saja kulayangkan sebuah tinjuan padanya.
Ia tersungkur menjauh, sementara Shania terjatuh sambil mencoba mengatur nafasnya.
"Are you okay?" Tanyaku sambil memegang kedua bahu Shania. Ia hanya mengangguk lemah.
"Ngapain sih pake acara sok-sok an gitu Nju..." Protesku
"Ih aku kan cuma ngulur waktu!" Sahut Shania padaku
"Terserah deh" kini aku menjongkok dan hendak menggendong Shania "ayo, naik" ajakku
Shania dengan malu-malu menaiki punggungku "tutup matamu" kataku, ia mengangguk dan menutup matanya "teleport!"
Aku men-teleport diriku dengan Shania menuju ke tempat Rizal.
"Oy Zal..." Sapaku
Ia sedang mengamati kami dari jendela lorong yang besar. "Hmm"
"Mereka anak-anak SMA T kan zal?" Tanyaku, kini Shania ingin turun dan ia turun dari gendonganku.
Rizal mengangguk "SMA T... Sungguh merepotkan!" Sahutnya, ia terlihat mengambil iPhone-nya dan memencet beberapa tombol.
[Author POV]
Sementara itu di rumahsakit tepatnya kamarnya Nabilah...
[Vito POV]
'Drrtt-drrrt-drrrtt'
Aku dengan malas melihat kearah iPhone ku yang bergetar. Disana tertulis
'Video Call'
From : Rizal
Hah Rizal? Ngapain ya?
"Kak kenapa gak diangkat?" Tanya Nabilah membuyarkan lamunanku
"Eh.. Emm... Iya" aku langsung mengusap tombol hijau dan disana sudah dapat kulihat wajah Rizal
"Vit..." Panggil Rizal
"Oy zal.. Napa?" Tanyaku to the point
"Can you come here?" Tanya Rizal, ia mengarahkan iPhonenya ke arah jendela. Aku melihat segrombolan anak-anak berseragam berbeda sedang merusak lingkungan sekolah.
Aku melirik sedikit kearah Nabilah. Lalu kembali kearah Rizal "mm.. Kenapa tuh?" Tanyaku
"Anak SMA T, dicer" jelas Rizal
"Woy Vit, sini tolongin kita!" Sahut seseorang yang kutebak Axel
"Gu.. Gue ga bisa... Nabilah masuk rumah sakit" jelasku
"Udah, gak apa kak... Kalo mau kesana yaudah" jelas Nabilah
"Tapi..."
"Udah gak papa" katanya
"Vit.. Gue tunggu lo disini" jelas Rizal lalu ia mematikan sambungannya.
Aku melirik sedikit kearah Nabilah, ia hanya mengangguk. Dengan sedikit takut aku mencium keningnya.
"Sebentar ya..." Ucapku, dapatku lihat rona merah di kedua pipinya. Ia mengangguk
"Teleport!"
[Rizal POV]
Kumasukkan iPhone-ku ke dalam kantong celana abu-abuku. "Tinggal tunggu Vito aja" kataku santai
Axel kembali menatap jendela kearah luar "mereka dicer" gumamnya
Kenapa ini? Perasaanku menjadi aneh... Tidak enak... Sialan... Oh aku lupa aku harus menjemput kak Ve.
"Jam berapa ini?" Tanyaku
"Jam sebelas lewat" balas Shania
"Oh... Gitu... Sip deh, tungguin Vito aja Xel.. Gue ada urusan" ucapku
"Wtf bro, urusan apa?" Tanya Axel
[Author POV]
[Flashback ON]
"Eumm... Zal..." Sapa Ve disela-sela memakan sarapannya
"Hmm?"
"Nanti jam sebelas tolong jemput kak Ve ya" ucap Ve
"Ya"
[Flashback OFF]
[Rizal POV]
"Disuruh jemput kak Ve" ucapku santai, aku berjalan santai melewati lorong sekolah menuju parkiran.
Aku dapat melihat beberapa anak MOS tengah bersembunyi diantara kelas-kelas. Bahkan di bawah meja.
Suasana sekolah sepi sekali...
[To be Continue]
@SeenaGL
Fanficnya jelek ya? O.o Gommen!
.
.
[Part 2]
.
.
"Lepasin!" Teriaknya sambil melepaskan tanganku dengan paksa. "Kakak jahat...!" Sahut Nabilah, ia pun berlari ke sebrang jalanan
Namun...
Bruuuukkkkk
Saat Nabilah meneriakkan kalimat itu, ada sebuah mobil Avanza dengan kecepatan tinggi melintas dan menabrak Nabilah.
"Shit, Nabilah!!!" Teriakku, kini aku berlari menuju tubuh Nabilah yang tidak berdaya. Ia tergeletak di jalanan dengan darah yang mengalir deras
"Bil... Bilah!" Teriakku, kini kutopang kepalanya di paha kananku sambil tanganku menepuk-nepuk pipinya.
Sudah banyak orang yang berdatangan melihat ke tempat kejadian tersebut dan mengelilingi kami.
"Maafin kakak bil... Maaf..." Ujarku lirih, tak kusadari airmataku menetes terkena wajah Nabilah
"Ka.... Kakak.... Kakak nangis?" Tanya Nabilah dengan kaku.
Ku usap airmata yang mengalir. "Hmm" aku mengangguk "teleport!" Ucapku
Kini aku dan Nabilah sudah berada di lobby rumah sakit yang cukup terkenal di Jakarta.
"Ca... Caranya gimana kak?" Tanya Nabilah
"Ada deh..." Aku mengulurkan lidahku, kini ku bawa lari Nabilah dengan cara kugendong ala bridal style (yg biasa di film pangeran and putri gitu)
"Sus! Sus! Dok! Tolong! Siapa aja!" Sahutku, kulihat beberapa suster mendatangi kami.
"Ada apa dik?" Tanya salah satu suster
"Tolong... Korban tabrakan..." Kataku, suster yang satu telah membawa kasur dorong. Segera saja ku letakkan Nabilah ke arah Kasur tersebut dan di dorong oleh suster menuju salah satu ruangan.
Ruangan tersebut ditulis dengan nama 'ICU'
"Maaf dik.. Adik tunggu sini, biar gadis itu kami yang tangani" ucap Suster itu lembut. Aku hanya bisa mengangguk pasrah, kini aku menduduki kursi tunggu yang ada di sana.
Sesekali kutatap tv yang ada di sudut ruangan.
"Berita terkini.... Sudah terjadi tabrakan antara seorang gadis belia dengan sebuah mobil Avanza berplat B **** ***. Korban langsung dibawa lari oleh seorang pemuda entah kemana." Ucap sang Reporter
Aku tersenyum kecil
"Di sana kami menemukan sebuah motor ninja berwarna merah putih hitam. Dan sebuah korban lain di dalam gang gelap" lanjut sang reporter sambil menuju korban si preman bertubuh kekar
"Apa yang sedang anda lakukan disini?" Tanya sang Reporter
"Kami berdua sedang berjalan-jalan hingga pemuda itu datang" sahut si Kekar
Aku yang mulai geram langsung berdiri "cih... Teleport!" Aku menteleport diriku menuju ke mulut gang gelap tersebut.
"Lalu, siapakah pemuda itu? Apa anda mengenalnya?" Tanya sang reporter
"Tidak" jawab singkat si kekar
"Menurut anda kenapa anda sampai terluka bakar seperti ini?" Tanya Reporter
"Karena dia psikopat!" Sahut si Kekar "belum lagi ia meninju saya dengan kekuatan api yang ia miliki. Saya menjadi heran karenanya" lanjutnya
Aku segera mendatangi si Kekar dan menepuk pundaknya. "Siapa yang anda bilang psikopat? Dasar bedebah!" Sahutku, kini kutinju wajahnya dengan tanganku.
"Ukh!"
"Anda sudah nyaris memperkosa adik saya. Bagaimana saya akan tinggal diam?" Tanyaku, kini kutatap ia yang sedang tersungkur.
"Kejadian tabrakan itu juga gara-gara anda. Anda yang berbuat demikian sehingga adik saya panik dan menyebrang jalan!" Sahutku lagi. Aku 'pun yang geram menarik kerah bajunya
"Ba... Baiklah! Jika kau mau ganti rugi akan saya bayar! Berapapun juga! Asalkan anda tidak menyakiti saya!" Sahut si Kekar
"Nyawa tidak bisa dibayar pakai uang!" Sahutku, kembali kutinju wajahnya. "Nyawa dibayar dengan nyawa!" Sahutku lagi-lagi kutinju wajahnya tersebut.
"Grrr.... Cih..." Aku mengeram sedikit lalu melepaskan tanganku dari kerah bajunya "pergilah... Sebelum anda benar-benar kuhabisi" ucapku, dengan langkah pelan aku menuju motorku dan memakai helm full face.
Ku lajukan motorku menuju rumah sakit dimana Nabilah di rawat.
Setelah kuparkirkan motorku aku langsung berlari kearah resepsionis. "Permisi mbak... Gini, dimana kamar pasien bernama Nabilah Ratna Ayu Azalia?" Tanyaku to the point
"Baiklah, saya periksa dulu.." Ia menggantungkan kalimatnya dan membuka daftar pasien. "Kamar nomor 48 dik... Eh? Dik???" Tanyanya. Mungkin ia kaget karena aku langsung teleport menuju kamar bernomor 48 itu.
Ku ketok perlahan pintu kamar, "masuk"
Ku buka pintu kamar dan kudapati Nabilah yang sedang di infus tangannya dan mendapat beberapa luka memar hingga baret.
"Hai..." Sapaku
"...."
"Maafin kakak ya... Karena kakak lalai kamu jadi kayak gini..." Ucapku, kini kututup pintu kamar tersebut dan mulai duduk di kursi tunggu pasien.
"...."
Ia masih tidak menjawab
"Kamu marah banget sama kakak ya?" Tanyaku
Ia menggeleng pelan
"Aku gak bisa marah sama orang yang ku sayangin. Maaf kak, tadi aku heran sama kekuatan kakak jadinya aku langsung lari gitu aja" jelasnya
Aku mengangguk dan memegang tangannya yang bebas dari infus. "Bil... Lain kali jangan gitu ya.. Maaf kakak belum bisa cerita sama kamu tentang kakak sebenarnya" kataku
Ia mengangguk "lalu, apa sekarang kakak bisa ceritain ke aku?" Tanya Nabilah
Aku tertunduk, lalu mengambil nafas panjang dan membuangnya. Kini kutatap wajah Nabilah dengan hangat "sebenarnya... Kakak itu dicer" kataku singkat
"Ka... Kakak Dicer!?" Teriaknya tak percaya, aku hanya mengangguk.
"Ya..." Jawabku
"Jadi, siapa kakak sebenarnya?" Tanya Nabilah
"Aku... The V" kataku dengan polos
"Jadi, V for Vito?" Tanya Nabilah, sedangkan aku mengangguk lagi. "Kenapa kakak gak cerita? Aku seneng banget tau ngeliat kakak pas war.. Keren!" Sahut Nabilah
Kini aku tersenyum kecil mendengar perkataan itu keluar dari mulutnya. "Be.. Benarkah? Makasih..." Jawabku disertai senyumku yang mengembang
[Author POV]
Sementara itu di SMA J
[Shania POV]
Sudah beberapa menit kutatap terus jam tanganku sambil kuhentak-hentakkan kaki kananku. Aku menunggu kehadiran kedua adikku itu, tidak bukan adik sungguhan. Maksudku adikku, ya Nabilah dan Vito. Aku tak bisa membohongi perasaanku yang tidak enak, namun aku terus mencoba berfikir positive.
"Kak Nju.. Kapan mulai?" Ujar Jeje sambil menepuk bahuku
Aku tersentak kaget dan menengok kearahnya tak lupa kuukir senyumku "kayaknya sekarang aja" jawabku
Jeje langsung bersedih "trus, Nabilah sama Vito gimana?" Tanya Jeje
"Emm.. Maaf tapi MOS harus segera dimulai..." Kataku, dengan cepat kunaiki panggung di lapangan yang khusus buat pengumuman.
Kutatap seluruh anak-anak MOS dengan bangga "selamat pagi adek-adek!!" Sapaku dengan semangat
"Pagii kaaaaaa"
"Wahh... Semangat banget nih.. Udah semangat belom buat MOS nya?!!" Sahutku lagi
"Udaahhh dongggggg"
"Wah........."
Braaakkkk!!!!
Belum ku selesaikan kalimatku, terlihat pintu pagar sekolah yang sudah ditutup di dobrak secara paksa. Dan terlebih lagi aku melihat satpam nya telah terjatuh lemah, sontak mataku membulat.
Anak-anak MOS segera berlarian mencari tempat sembunyi. Dari kejauhan aku dapat melihat mereka. Ya mereka dari SMA T, tepatnya Dicer SMA T
"SELAMAT HARI MOS!!!!!" Sahut ketua Dicer tersebut.
Aku dengan cepat menuruni panggung dan menemui Jeje, terlihat wajah Jeje sudah sangat cemas.
"Kak Nju... Bagaimana ini?" Tanya Jeje
"Hmm... Gini aja, kamu lari... Cepet lari!" Kataku sambil mendorong-dorong Jeje.
"Trus kakak gimana?" Tanya Jeje sambil menahan doronganku
"Gampanglah. Kakak bakal ngalihin perhatian dulu" kataku santai
[Axel POV]
Aku melihat kearah pintu gerbang yang sudah hancur lebur dan segrombolan orang memasuki area sekolah secara paksa
"SELAMAT HARI MOS!!!!!" Sahut salah satu dari mereka
Mataku langsung tertuju pada seorang gadis yang mencoba mendekati mereka, setelah kuhitung mereka ternyata ada 5 orang.
"Sh... Shania?" Gumamku sambil memperhatikan wajah gadis itu.
Aku langsung berlari mendekat.
Kini kulihat Shania sedang berdebat dengan salah satu dari mereka. Kulihat lelaki tersebut mencekik Shania, amarahku tak bisa kutahan.
Aku langsung berlari menuju lelaki itu "teleport!" Aku menteleport diriku dan muncul di depannya. Langsung saja kulayangkan sebuah tinjuan padanya.
Ia tersungkur menjauh, sementara Shania terjatuh sambil mencoba mengatur nafasnya.
"Are you okay?" Tanyaku sambil memegang kedua bahu Shania. Ia hanya mengangguk lemah.
"Ngapain sih pake acara sok-sok an gitu Nju..." Protesku
"Ih aku kan cuma ngulur waktu!" Sahut Shania padaku
"Terserah deh" kini aku menjongkok dan hendak menggendong Shania "ayo, naik" ajakku
Shania dengan malu-malu menaiki punggungku "tutup matamu" kataku, ia mengangguk dan menutup matanya "teleport!"
Aku men-teleport diriku dengan Shania menuju ke tempat Rizal.
"Oy Zal..." Sapaku
Ia sedang mengamati kami dari jendela lorong yang besar. "Hmm"
"Mereka anak-anak SMA T kan zal?" Tanyaku, kini Shania ingin turun dan ia turun dari gendonganku.
Rizal mengangguk "SMA T... Sungguh merepotkan!" Sahutnya, ia terlihat mengambil iPhone-nya dan memencet beberapa tombol.
[Author POV]
Sementara itu di rumahsakit tepatnya kamarnya Nabilah...
[Vito POV]
'Drrtt-drrrt-drrrtt'
Aku dengan malas melihat kearah iPhone ku yang bergetar. Disana tertulis
'Video Call'
From : Rizal
Hah Rizal? Ngapain ya?
"Kak kenapa gak diangkat?" Tanya Nabilah membuyarkan lamunanku
"Eh.. Emm... Iya" aku langsung mengusap tombol hijau dan disana sudah dapat kulihat wajah Rizal
"Vit..." Panggil Rizal
"Oy zal.. Napa?" Tanyaku to the point
"Can you come here?" Tanya Rizal, ia mengarahkan iPhonenya ke arah jendela. Aku melihat segrombolan anak-anak berseragam berbeda sedang merusak lingkungan sekolah.
Aku melirik sedikit kearah Nabilah. Lalu kembali kearah Rizal "mm.. Kenapa tuh?" Tanyaku
"Anak SMA T, dicer" jelas Rizal
"Woy Vit, sini tolongin kita!" Sahut seseorang yang kutebak Axel
"Gu.. Gue ga bisa... Nabilah masuk rumah sakit" jelasku
"Udah, gak apa kak... Kalo mau kesana yaudah" jelas Nabilah
"Tapi..."
"Udah gak papa" katanya
"Vit.. Gue tunggu lo disini" jelas Rizal lalu ia mematikan sambungannya.
Aku melirik sedikit kearah Nabilah, ia hanya mengangguk. Dengan sedikit takut aku mencium keningnya.
"Sebentar ya..." Ucapku, dapatku lihat rona merah di kedua pipinya. Ia mengangguk
"Teleport!"
[Rizal POV]
Kumasukkan iPhone-ku ke dalam kantong celana abu-abuku. "Tinggal tunggu Vito aja" kataku santai
Axel kembali menatap jendela kearah luar "mereka dicer" gumamnya
Kenapa ini? Perasaanku menjadi aneh... Tidak enak... Sialan... Oh aku lupa aku harus menjemput kak Ve.
"Jam berapa ini?" Tanyaku
"Jam sebelas lewat" balas Shania
"Oh... Gitu... Sip deh, tungguin Vito aja Xel.. Gue ada urusan" ucapku
"Wtf bro, urusan apa?" Tanya Axel
[Author POV]
[Flashback ON]
"Eumm... Zal..." Sapa Ve disela-sela memakan sarapannya
"Hmm?"
"Nanti jam sebelas tolong jemput kak Ve ya" ucap Ve
"Ya"
[Flashback OFF]
[Rizal POV]
"Disuruh jemput kak Ve" ucapku santai, aku berjalan santai melewati lorong sekolah menuju parkiran.
Aku dapat melihat beberapa anak MOS tengah bersembunyi diantara kelas-kelas. Bahkan di bawah meja.
Suasana sekolah sepi sekali...
[To be Continue]
@SeenaGL
Fanficnya jelek ya? O.o Gommen!
Fanfiction JKT48 Sok Kenal Sok Dekat [Part 1]
Sok Kenal Sok Dekat
.
.
[Part 1]
By : @SeenaGL
.
.
"Nabilaaaahhhhh" teriak seorang gadis membangunkan gadis yang berusia lebih muda daripada dirinya sendiri
"Bilaaahh.... Ayo bangun sarapan dulu.. Udah kak Melody siapin tuh! Kan gak enak kalo gak makan!" Sahut temannya itu
"Iya Je... Iya tant Nju.. Sebentar ya, 2 jam lagi aja.." Pinta gadis yang masih tidur yang bernama Nabilah itu tanpa membuka mata sedikit 'pun
"2 jam? Kamu gila Nabilah? Hari ini hari pertama kamu MOS.. Dan aku yang jadi Ketua OSIS nya.." Jelas Gadis yang bernama Shania
"Nabilah.. Jangan gitu napa... Aku kan Anggota OSIS juga..." Sahut gadis yang bernama Jeje. Shania lebih tua satu tahun dari Jeje, dan Jeje lebih tua satu tahun dari Nabilah.
'Tok-tok-tok...'
"Hey... Anak-anak lantai dua! Ayo sarapan, kakak-kakak udah pada nunggu tuh disana... Gak enak kalo gak makan!" Sahut seorang gadis dari luar
"Tuhh... Udah di panggil sama Sinka... Yuk bil!" Panggil Shania, ia menarik-narik tangan gadis pemalas tersebut
"Duuh tukang tidur, buruan deh bangun bil.. Ato gak gue guyur pake air" ancam Jeje yang sudah membawa ember yang kosong tentunya.
Nabilah menggeleng pelan lalu bangkit dari tidurnya "anjay, kalo lo siram basah ni kasur. Bisa-bisa dikira ngompol lagi.." Ucap Nabilah
"Naah tuh tau... Udah gih cuci muka trus kebawah. Kita tunggu ya bil... Jangan ngacir lo" kini Shania sudah membuka pintu dan keluar disusul juga oleh Jeje.
"Hemmzz iya-iya" ucap Nabilah sambil mengucek-ngucek kedua matanya "nyam-nyam... Huuh gara-gara mereka, jadi laper deh gue..." Sahutnya, ia segera mengambil handuk dan membasuh badannya.
Sementara itu di ruang makan...
"Hello everybodih!" Sapa Jeje meriah
"Hey Je..." Sapa Melody sambil membagikan nasi ke piring-piring yang kosong dibantu oleh Ve
"Hai semua..." Sapa Shania
"Hai juga nju, Je..." Sapa Naomi
Sementara Lidya sedang asik dengan HP-nya, Sinka sedang sibuk memindah-mindahkan channel tv, Viny sedang membenarkan tampilan meja makan.
"Tadaaaaa....." Ve kini datang membawa piring lauk yang besar dari arah dapur sambil sebuah senyuman mengembang dari wajah cantiknya tersebut.
"Waaaahhh......" Sahut Jeje, ia kagum bahkan tidak berkedip sedikitpun saat menatap masakan yang dibuat oleh Ve.
"Lah... Yang boys kmana? Kok belum dateng?" Tanya Melody sambil menutup rice cooker dan berjalan menuju ruang makan
"Eum... Biar Ve aja yang cari ya Mel... Bentar" kata Ve, ia membuka celemek yang ia pakai lalu segera bergegas menaiki tangga
Saat ia menaiki tangga, Ve berpapasan dengan Nabilah yang sudah rapi dan lengkap dengan seragam. "Hey.. Yuk sarapan" ajak Ve
Nabilah menggeleng pelan "en... Engga" jawabnya, suaranya terdengar gemetar.
Ve yang curiga dengan Nabilah hanya bisa memperhatikan wajahnya dan matanya yang sembab. "Kamu... Abis nangis?" Tanya Ve
Nabilah menggeleng "udah aku gak apa..." Jawabnya dan melanjutkan menuruni tangga.
"Emm... Nabilah aneh deh... Yaudah nanti aja deh mikirinnya" batin Ve, ia menaikkan kedua bahunya dan menaiki tangga menuju ke-4 kamar yang bersebelahan.
"Hey Boys! Ayo Sarapan!" Sahut Ve dari luar
"Heum.... Bentar masih ngantuk!" Jawab Vito
"Iih Vito buruan deh! Kak Ve masih ada mata kuliah nih bentar lagi!" Sahut Ve
"Iya Ve, 2 menit lagi... Masih pake baju!" Jawab Adit
"Oke, Rizal, Axel!" Sahut Ve lagi
"Hmmm aku turun..." Sahut mereka kompak
Akhirnya Ve bisa tersenyum menang "oke, ditunggu di bawah. Jangan lama-lama" peringat Ve, ia pun menuruni tangga menuju ruang makan.
Ve mengedarkan pandangannya, namun ia tidak mendapati sosok Nabilah. Padahal semuanya lengkap.
"Udah disuruh turun Ve?" Tanya Melody yang memecahkan kaca lamunan Ve
"Eh.. Eum.. Udah Mel... Katanya bentar" jelas Ve, ia pun menarik kursi dan segera duduk. "Nabilah mana?" Tanya Ve
Semua hanya menggeleng, ada juga yang mengangkat kedua bahunya "katanya sih dia mau berangkat duluan" jelas Jeje
"Naik?" Tanya Ve cepat
Jeje mengangkat kedua bahunya, sementara Shania menggeleng "gak tau..."
"Ish.. Tadi kakak liat dia abis nangis gitu di tangga" jelas Ve
Melody membulatkan kedua matanya "ke.. Kenapa Ve?" Tanya Melody, sementara Ve hanya menggeleng lemas
"Hahh~"
Trio Boys pun turun, trio boys tuh Axel, Rizal, Vito. Sementara Adit tidak mau ikut geng Trio Boys, dengan alasan ia bukanlah anak SMA lagi.
"Nah pas banget. Vito, tolong kejar Nabilah ya. Se-enggaknya jagain dia, kak Melody khawatir. Soalnya perasaan kak Melody gak enak.." Jelas Melody sambil duduk di kursinya.
"Jiah... aku belum sarapan kak..." Lirih Vito
"Udah di sekolah aja... Kan dah ada uang jajan" jelas Melody "gih susulin ya Vit... Kakak nitip Nabilah sama kamu" lanjutnya
Vito hanya mengangguk kecil dan berjalan menuju ruang keluarga untuk mengambil kunci motor. "Yaudah, kalo gitu Vito duluan. Bye kakak Ketos Males..." Ledek Vito sambil berjalan keluar rumah menuju garasi dimana motornya diparkirkan.
"Ih.. Vito masih ngeledek pula!" Sahut Shania, ia mulai menyantap sarapannya dengan semangat.
Terlihat Rizal, Axel, Shania, Sinka, dan juga Jeje telah siap untuk berangkat. "Hey.. Kalian ada yang anggota OSIS gak?" Tanya Melody
Rizal, Axel, Shania, Sinka dan Jeje mengangkat tangan. "Semuanya OSIS?" Tanya Melody
"Dia Ketos" Jeje menunjuk Shania, iikuti oleh Sinka, Axel, dan Rizal.
"Eh... Gak usah gitu juga kali nunjuknya..." Kata Shania, sontak seluruh teman-temannya tertawa.
"Tolong ya, pe-ringan kegiatan MOS-nya Nabilah, kakak takut dia keinget keluarganya lagi" kata Melody
"Tenang aja kak.. Kita kasih keringanan kok.. Tanpa disuruh aja udah kita lakuin" sahut Shania sambil tersenyum
Sementara itu di jalanan yang lumayan macet
[Vito POV]
Aku menjalankan motorku dengan sangat lambat, selain karena aku malas aku juga kelaperan. "Huuufftt Nabilah, bisa gak sih sekaliiii aja gak bikin orang khawatir sama kamu" gerutuku, kulintasi jalanan dengan sangat lambat
Ku berhentikan motorku saat lampu lalulintas berwarna merah. Sesekali kuedarkan pandanganku mencari sosok yang tengah kucari-cari.
Pandanganku tertuju pada suatu gang sempit diantara dua buah gedung yang tinggi. Aku melihat seorang gadis yang tengah kesulitan disana, tanpa pikir panjang segera kutrobos lampu merah dan memarkirkan motorku di trotoar
kurasa gadis tersebut sangat tersudut, ku lihat wajah gadis tersebut sebelum bertindak. Na... Nabilah! Ya itu Nabilah! Dan kutatap preman brengsek itu, ada satu berbadan kekar, dan satu kecil namun agak tinggi.
Kulihat salah satu preman itu (yg kecil) mendekati Nabilah hendak menciumnya, dengan cepat kutarik kerah baju preman itu hingga ia terjatuh ke belakang.
"Cih... Enak aja maen cium-cium segala!" Sahutku sambil membuang preman tersebut. Kutatap tajam kedua mata preman yang nyaris saja mencium Nabilah.
"Ka.. Kak Vito..." Panggil Nabilah tak percaya, kulihat air mata telah membanjiri wajahnya. Ia memelukku dari belakang.
Oh God, udah lama sekali aku gak pernah ngerasa di peluk dengan hangat seperti ini. Lalu dengan perlahan ku lepas pelukannya dan mencoba menghapus airmata dari wajahnya.
"Udah.. Jangan nangis... Kakak pasti lindungin kamu, walaupun nyawa kakak taruhannya" jawabku semena-mena. What! Gue bilang 'walaupun nyawa gue taruhannya' shit salah bilang
"Ka... kak...." Panggil Nabilah lirih, kini aku kembali menatap para penjahat itu. Si Kekar membantu rekannya yang tersungkur
"Heh... Udah deh, lo siapa hah! Biarin kita mau menuhin nafsu kita nih!" Sahut si kecil
"Iya! Kita udah ngincer dia selama 5 bulan! Skarang lo gak usah ikut campur sama urusan kita!" Sahut si Kekar
Terlihat Nabilah bersembunyi di belakangku dan menarik bajuku "kak.. Lari..." Kata Nabilah, aku menggeleng pelan
"Kalo lari, nanti malah jadi panjang" ucapku pelan.
"Jadi lo berdua udah ngincer dia?" Tanyaku memastikan. Mereka berdua mengangguk mantap
"Iya sob! So, please jangan ganggu kita. Kita lagi mau seneng-seneng nih! Ayo dong sayang..." Goda si kecil pada Nabilah
"Idih..." Sahut Nabilah kecil, hanya terdengar olehku saja.
"Cih... Kalo lo mau seneng-seneng sama dia, langkahin dulu mayat gua!" Sahutku lantang dan memicu pandangan orang-orang luar. Aku kini berlari kencang menuju si kecil dan memukulnya, namun si kekar menghalangi
"AWAS!!!!" Sahutku, "Fire Punch!"
Blaaarrrrr
Lengan si Kekar terbakar karena tinjuku, ia pun meringis sambil terguling-guling di tanah. Ku tatap Nabilah yang tidak percaya.
"Now... You!" Kini pandanganku kembali ke preman kecil yang ketakutan, kutunjuk kearahnya dengan telunjuk tangan kananku. Ia terduduk sambil gemetaran.
"Berani-beraninya lo ngincer dia!!" Sahutku, kini aku berlari menuju ia. Namun preman itu berlari "teleport!"
Aku men-teleport diriku sendiri, kini aku sudah berada di depannya. "Ba... Bagaimana bisa!?" Sahutnya tak percaya
Aku menaikan kedua bahuku "ntahlah... Bagaimana ya?" Tanyaku balik "Punch!" Aku meninjunya di bagian perut, ia tampak terlempar jauh bahkan keluar dari gang.
Kini aku berlari cepat menuju Nabilah yang tampak kaget dengan apa yang ku perbuat. Ku tarik tangannya yang mungil "ayo, nanti dijalan ku jelasin. Nanti kamu bisa telat MOS" kataku. Kini aku menarik tangannya menuju motorku.
"Lepasin!" Teriaknya sambil melepaskan tanganku dengan paksa. "Kakak jahat...!" Sahut Nabilah, ia pun berlari ke sebrang jalanan
Namun...
[To Be Continue...]
Author's Note :
Ciaattttt ini adalah Spin Off dari DICE, komik yang ada di webtoons itu lhoo yang dari LINE. Selamat membaca! Thx yang udh comment, tolong kritiknya. Karena Kritik adalah Motivasi untuk menjadi lebih baik lagi.
.
.
[Part 1]
By : @SeenaGL
.
.
"Nabilaaaahhhhh" teriak seorang gadis membangunkan gadis yang berusia lebih muda daripada dirinya sendiri
"Bilaaahh.... Ayo bangun sarapan dulu.. Udah kak Melody siapin tuh! Kan gak enak kalo gak makan!" Sahut temannya itu
"Iya Je... Iya tant Nju.. Sebentar ya, 2 jam lagi aja.." Pinta gadis yang masih tidur yang bernama Nabilah itu tanpa membuka mata sedikit 'pun
"2 jam? Kamu gila Nabilah? Hari ini hari pertama kamu MOS.. Dan aku yang jadi Ketua OSIS nya.." Jelas Gadis yang bernama Shania
"Nabilah.. Jangan gitu napa... Aku kan Anggota OSIS juga..." Sahut gadis yang bernama Jeje. Shania lebih tua satu tahun dari Jeje, dan Jeje lebih tua satu tahun dari Nabilah.
'Tok-tok-tok...'
"Hey... Anak-anak lantai dua! Ayo sarapan, kakak-kakak udah pada nunggu tuh disana... Gak enak kalo gak makan!" Sahut seorang gadis dari luar
"Tuhh... Udah di panggil sama Sinka... Yuk bil!" Panggil Shania, ia menarik-narik tangan gadis pemalas tersebut
"Duuh tukang tidur, buruan deh bangun bil.. Ato gak gue guyur pake air" ancam Jeje yang sudah membawa ember yang kosong tentunya.
Nabilah menggeleng pelan lalu bangkit dari tidurnya "anjay, kalo lo siram basah ni kasur. Bisa-bisa dikira ngompol lagi.." Ucap Nabilah
"Naah tuh tau... Udah gih cuci muka trus kebawah. Kita tunggu ya bil... Jangan ngacir lo" kini Shania sudah membuka pintu dan keluar disusul juga oleh Jeje.
"Hemmzz iya-iya" ucap Nabilah sambil mengucek-ngucek kedua matanya "nyam-nyam... Huuh gara-gara mereka, jadi laper deh gue..." Sahutnya, ia segera mengambil handuk dan membasuh badannya.
Sementara itu di ruang makan...
"Hello everybodih!" Sapa Jeje meriah
"Hey Je..." Sapa Melody sambil membagikan nasi ke piring-piring yang kosong dibantu oleh Ve
"Hai semua..." Sapa Shania
"Hai juga nju, Je..." Sapa Naomi
Sementara Lidya sedang asik dengan HP-nya, Sinka sedang sibuk memindah-mindahkan channel tv, Viny sedang membenarkan tampilan meja makan.
"Tadaaaaa....." Ve kini datang membawa piring lauk yang besar dari arah dapur sambil sebuah senyuman mengembang dari wajah cantiknya tersebut.
"Waaaahhh......" Sahut Jeje, ia kagum bahkan tidak berkedip sedikitpun saat menatap masakan yang dibuat oleh Ve.
"Lah... Yang boys kmana? Kok belum dateng?" Tanya Melody sambil menutup rice cooker dan berjalan menuju ruang makan
"Eum... Biar Ve aja yang cari ya Mel... Bentar" kata Ve, ia membuka celemek yang ia pakai lalu segera bergegas menaiki tangga
Saat ia menaiki tangga, Ve berpapasan dengan Nabilah yang sudah rapi dan lengkap dengan seragam. "Hey.. Yuk sarapan" ajak Ve
Nabilah menggeleng pelan "en... Engga" jawabnya, suaranya terdengar gemetar.
Ve yang curiga dengan Nabilah hanya bisa memperhatikan wajahnya dan matanya yang sembab. "Kamu... Abis nangis?" Tanya Ve
Nabilah menggeleng "udah aku gak apa..." Jawabnya dan melanjutkan menuruni tangga.
"Emm... Nabilah aneh deh... Yaudah nanti aja deh mikirinnya" batin Ve, ia menaikkan kedua bahunya dan menaiki tangga menuju ke-4 kamar yang bersebelahan.
"Hey Boys! Ayo Sarapan!" Sahut Ve dari luar
"Heum.... Bentar masih ngantuk!" Jawab Vito
"Iih Vito buruan deh! Kak Ve masih ada mata kuliah nih bentar lagi!" Sahut Ve
"Iya Ve, 2 menit lagi... Masih pake baju!" Jawab Adit
"Oke, Rizal, Axel!" Sahut Ve lagi
"Hmmm aku turun..." Sahut mereka kompak
Akhirnya Ve bisa tersenyum menang "oke, ditunggu di bawah. Jangan lama-lama" peringat Ve, ia pun menuruni tangga menuju ruang makan.
Ve mengedarkan pandangannya, namun ia tidak mendapati sosok Nabilah. Padahal semuanya lengkap.
"Udah disuruh turun Ve?" Tanya Melody yang memecahkan kaca lamunan Ve
"Eh.. Eum.. Udah Mel... Katanya bentar" jelas Ve, ia pun menarik kursi dan segera duduk. "Nabilah mana?" Tanya Ve
Semua hanya menggeleng, ada juga yang mengangkat kedua bahunya "katanya sih dia mau berangkat duluan" jelas Jeje
"Naik?" Tanya Ve cepat
Jeje mengangkat kedua bahunya, sementara Shania menggeleng "gak tau..."
"Ish.. Tadi kakak liat dia abis nangis gitu di tangga" jelas Ve
Melody membulatkan kedua matanya "ke.. Kenapa Ve?" Tanya Melody, sementara Ve hanya menggeleng lemas
"Hahh~"
Trio Boys pun turun, trio boys tuh Axel, Rizal, Vito. Sementara Adit tidak mau ikut geng Trio Boys, dengan alasan ia bukanlah anak SMA lagi.
"Nah pas banget. Vito, tolong kejar Nabilah ya. Se-enggaknya jagain dia, kak Melody khawatir. Soalnya perasaan kak Melody gak enak.." Jelas Melody sambil duduk di kursinya.
"Jiah... aku belum sarapan kak..." Lirih Vito
"Udah di sekolah aja... Kan dah ada uang jajan" jelas Melody "gih susulin ya Vit... Kakak nitip Nabilah sama kamu" lanjutnya
Vito hanya mengangguk kecil dan berjalan menuju ruang keluarga untuk mengambil kunci motor. "Yaudah, kalo gitu Vito duluan. Bye kakak Ketos Males..." Ledek Vito sambil berjalan keluar rumah menuju garasi dimana motornya diparkirkan.
"Ih.. Vito masih ngeledek pula!" Sahut Shania, ia mulai menyantap sarapannya dengan semangat.
Terlihat Rizal, Axel, Shania, Sinka, dan juga Jeje telah siap untuk berangkat. "Hey.. Kalian ada yang anggota OSIS gak?" Tanya Melody
Rizal, Axel, Shania, Sinka dan Jeje mengangkat tangan. "Semuanya OSIS?" Tanya Melody
"Dia Ketos" Jeje menunjuk Shania, iikuti oleh Sinka, Axel, dan Rizal.
"Eh... Gak usah gitu juga kali nunjuknya..." Kata Shania, sontak seluruh teman-temannya tertawa.
"Tolong ya, pe-ringan kegiatan MOS-nya Nabilah, kakak takut dia keinget keluarganya lagi" kata Melody
"Tenang aja kak.. Kita kasih keringanan kok.. Tanpa disuruh aja udah kita lakuin" sahut Shania sambil tersenyum
Sementara itu di jalanan yang lumayan macet
[Vito POV]
Aku menjalankan motorku dengan sangat lambat, selain karena aku malas aku juga kelaperan. "Huuufftt Nabilah, bisa gak sih sekaliiii aja gak bikin orang khawatir sama kamu" gerutuku, kulintasi jalanan dengan sangat lambat
Ku berhentikan motorku saat lampu lalulintas berwarna merah. Sesekali kuedarkan pandanganku mencari sosok yang tengah kucari-cari.
Pandanganku tertuju pada suatu gang sempit diantara dua buah gedung yang tinggi. Aku melihat seorang gadis yang tengah kesulitan disana, tanpa pikir panjang segera kutrobos lampu merah dan memarkirkan motorku di trotoar
kurasa gadis tersebut sangat tersudut, ku lihat wajah gadis tersebut sebelum bertindak. Na... Nabilah! Ya itu Nabilah! Dan kutatap preman brengsek itu, ada satu berbadan kekar, dan satu kecil namun agak tinggi.
Kulihat salah satu preman itu (yg kecil) mendekati Nabilah hendak menciumnya, dengan cepat kutarik kerah baju preman itu hingga ia terjatuh ke belakang.
"Cih... Enak aja maen cium-cium segala!" Sahutku sambil membuang preman tersebut. Kutatap tajam kedua mata preman yang nyaris saja mencium Nabilah.
"Ka.. Kak Vito..." Panggil Nabilah tak percaya, kulihat air mata telah membanjiri wajahnya. Ia memelukku dari belakang.
Oh God, udah lama sekali aku gak pernah ngerasa di peluk dengan hangat seperti ini. Lalu dengan perlahan ku lepas pelukannya dan mencoba menghapus airmata dari wajahnya.
"Udah.. Jangan nangis... Kakak pasti lindungin kamu, walaupun nyawa kakak taruhannya" jawabku semena-mena. What! Gue bilang 'walaupun nyawa gue taruhannya' shit salah bilang
"Ka... kak...." Panggil Nabilah lirih, kini aku kembali menatap para penjahat itu. Si Kekar membantu rekannya yang tersungkur
"Heh... Udah deh, lo siapa hah! Biarin kita mau menuhin nafsu kita nih!" Sahut si kecil
"Iya! Kita udah ngincer dia selama 5 bulan! Skarang lo gak usah ikut campur sama urusan kita!" Sahut si Kekar
Terlihat Nabilah bersembunyi di belakangku dan menarik bajuku "kak.. Lari..." Kata Nabilah, aku menggeleng pelan
"Kalo lari, nanti malah jadi panjang" ucapku pelan.
"Jadi lo berdua udah ngincer dia?" Tanyaku memastikan. Mereka berdua mengangguk mantap
"Iya sob! So, please jangan ganggu kita. Kita lagi mau seneng-seneng nih! Ayo dong sayang..." Goda si kecil pada Nabilah
"Idih..." Sahut Nabilah kecil, hanya terdengar olehku saja.
"Cih... Kalo lo mau seneng-seneng sama dia, langkahin dulu mayat gua!" Sahutku lantang dan memicu pandangan orang-orang luar. Aku kini berlari kencang menuju si kecil dan memukulnya, namun si kekar menghalangi
"AWAS!!!!" Sahutku, "Fire Punch!"
Blaaarrrrr
Lengan si Kekar terbakar karena tinjuku, ia pun meringis sambil terguling-guling di tanah. Ku tatap Nabilah yang tidak percaya.
"Now... You!" Kini pandanganku kembali ke preman kecil yang ketakutan, kutunjuk kearahnya dengan telunjuk tangan kananku. Ia terduduk sambil gemetaran.
"Berani-beraninya lo ngincer dia!!" Sahutku, kini aku berlari menuju ia. Namun preman itu berlari "teleport!"
Aku men-teleport diriku sendiri, kini aku sudah berada di depannya. "Ba... Bagaimana bisa!?" Sahutnya tak percaya
Aku menaikan kedua bahuku "ntahlah... Bagaimana ya?" Tanyaku balik "Punch!" Aku meninjunya di bagian perut, ia tampak terlempar jauh bahkan keluar dari gang.
Kini aku berlari cepat menuju Nabilah yang tampak kaget dengan apa yang ku perbuat. Ku tarik tangannya yang mungil "ayo, nanti dijalan ku jelasin. Nanti kamu bisa telat MOS" kataku. Kini aku menarik tangannya menuju motorku.
"Lepasin!" Teriaknya sambil melepaskan tanganku dengan paksa. "Kakak jahat...!" Sahut Nabilah, ia pun berlari ke sebrang jalanan
Namun...
[To Be Continue...]
Author's Note :
Ciaattttt ini adalah Spin Off dari DICE, komik yang ada di webtoons itu lhoo yang dari LINE. Selamat membaca! Thx yang udh comment, tolong kritiknya. Karena Kritik adalah Motivasi untuk menjadi lebih baik lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)