Jumat, 13 November 2015

Fanfiction JKT48 Sok Kenal Sok Dekat [Part 2]

Sok Kenal Sok Dekat

.
.
[Part 2]
.
.

"Lepasin!" Teriaknya sambil melepaskan tanganku dengan paksa. "Kakak jahat...!" Sahut Nabilah, ia pun berlari ke sebrang jalanan

Namun...


Bruuuukkkkk


Saat Nabilah meneriakkan kalimat itu, ada sebuah mobil Avanza dengan kecepatan tinggi melintas dan menabrak Nabilah.

"Shit, Nabilah!!!" Teriakku, kini aku berlari menuju tubuh Nabilah yang tidak berdaya. Ia tergeletak di jalanan dengan darah yang mengalir deras

"Bil... Bilah!" Teriakku, kini kutopang kepalanya di paha kananku sambil tanganku menepuk-nepuk pipinya.

Sudah banyak orang yang berdatangan melihat ke tempat kejadian tersebut dan mengelilingi kami.

"Maafin kakak bil... Maaf..." Ujarku lirih, tak kusadari airmataku menetes terkena wajah Nabilah

"Ka.... Kakak.... Kakak nangis?" Tanya Nabilah dengan kaku.

Ku usap airmata yang mengalir. "Hmm" aku mengangguk "teleport!" Ucapku

Kini aku dan Nabilah sudah berada di lobby rumah sakit yang cukup terkenal di Jakarta.

"Ca... Caranya gimana kak?" Tanya Nabilah

"Ada deh..." Aku mengulurkan lidahku, kini ku bawa lari Nabilah dengan cara kugendong ala bridal style (yg biasa di film pangeran and putri gitu)

"Sus! Sus! Dok! Tolong! Siapa aja!" Sahutku, kulihat beberapa suster mendatangi kami.

"Ada apa dik?" Tanya salah satu suster

"Tolong... Korban tabrakan..." Kataku, suster yang satu telah membawa kasur dorong. Segera saja ku letakkan Nabilah ke arah Kasur tersebut dan di dorong oleh suster menuju salah satu ruangan.

Ruangan tersebut ditulis dengan nama 'ICU'

"Maaf dik.. Adik tunggu sini, biar gadis itu kami yang tangani" ucap Suster itu lembut. Aku hanya bisa mengangguk pasrah, kini aku menduduki kursi tunggu yang ada di sana.

Sesekali kutatap tv yang ada di sudut ruangan.

"Berita terkini.... Sudah terjadi tabrakan antara seorang gadis belia dengan sebuah mobil Avanza berplat B **** ***. Korban langsung dibawa lari oleh seorang pemuda entah kemana." Ucap sang Reporter

Aku tersenyum kecil

"Di sana kami menemukan sebuah motor ninja berwarna merah putih hitam. Dan sebuah korban lain di dalam gang gelap" lanjut sang reporter sambil menuju korban si preman bertubuh kekar

"Apa yang sedang anda lakukan disini?" Tanya sang Reporter

"Kami berdua sedang berjalan-jalan hingga pemuda itu datang" sahut si Kekar

Aku yang mulai geram langsung berdiri "cih... Teleport!" Aku menteleport diriku menuju ke mulut gang gelap tersebut.

"Lalu, siapakah pemuda itu? Apa anda mengenalnya?" Tanya sang reporter

"Tidak" jawab singkat si kekar

"Menurut anda kenapa anda sampai terluka bakar seperti ini?" Tanya Reporter

"Karena dia psikopat!" Sahut si Kekar "belum lagi ia meninju saya dengan kekuatan api yang ia miliki. Saya menjadi heran karenanya" lanjutnya

Aku segera mendatangi si Kekar dan menepuk pundaknya. "Siapa yang anda bilang psikopat? Dasar bedebah!" Sahutku, kini kutinju wajahnya dengan tanganku.

"Ukh!"

"Anda sudah nyaris memperkosa adik saya. Bagaimana saya akan tinggal diam?" Tanyaku, kini kutatap ia yang sedang tersungkur.

"Kejadian tabrakan itu juga gara-gara anda. Anda yang berbuat demikian sehingga adik saya panik dan menyebrang jalan!" Sahutku lagi. Aku 'pun yang geram menarik kerah bajunya

"Ba... Baiklah! Jika kau mau ganti rugi akan saya bayar! Berapapun juga! Asalkan anda tidak menyakiti saya!" Sahut si Kekar

"Nyawa tidak bisa dibayar pakai uang!" Sahutku, kembali kutinju wajahnya. "Nyawa dibayar dengan nyawa!" Sahutku lagi-lagi kutinju wajahnya tersebut.

"Grrr.... Cih..." Aku mengeram sedikit lalu melepaskan tanganku dari kerah bajunya "pergilah... Sebelum anda benar-benar kuhabisi" ucapku, dengan langkah pelan aku menuju motorku dan memakai helm full face.

Ku lajukan motorku menuju rumah sakit dimana Nabilah di rawat.

Setelah kuparkirkan motorku aku langsung berlari kearah resepsionis. "Permisi mbak... Gini, dimana kamar pasien bernama Nabilah Ratna Ayu Azalia?" Tanyaku to the point

"Baiklah, saya periksa dulu.." Ia menggantungkan kalimatnya dan membuka daftar pasien. "Kamar nomor 48 dik... Eh? Dik???" Tanyanya. Mungkin ia kaget karena aku langsung teleport menuju kamar bernomor 48 itu.

Ku ketok perlahan pintu kamar, "masuk"

Ku buka pintu kamar dan kudapati Nabilah yang sedang di infus tangannya dan mendapat beberapa luka memar hingga baret.

"Hai..." Sapaku

"...."

"Maafin kakak ya... Karena kakak lalai kamu jadi kayak gini..." Ucapku, kini kututup pintu kamar tersebut dan mulai duduk di kursi tunggu pasien.

"...."

Ia masih tidak menjawab

"Kamu marah banget sama kakak ya?" Tanyaku

Ia menggeleng pelan

"Aku gak bisa marah sama orang yang ku sayangin. Maaf kak, tadi aku heran sama kekuatan kakak jadinya aku langsung lari gitu aja" jelasnya

Aku mengangguk dan memegang tangannya yang bebas dari infus. "Bil... Lain kali jangan gitu ya.. Maaf kakak belum bisa cerita sama kamu tentang kakak sebenarnya" kataku

Ia mengangguk "lalu, apa sekarang kakak bisa ceritain ke aku?" Tanya Nabilah

Aku tertunduk, lalu mengambil nafas panjang dan membuangnya. Kini kutatap wajah Nabilah dengan hangat "sebenarnya... Kakak itu dicer" kataku singkat

"Ka... Kakak Dicer!?" Teriaknya tak percaya, aku hanya mengangguk.

"Ya..." Jawabku

"Jadi, siapa kakak sebenarnya?" Tanya Nabilah

"Aku... The V" kataku dengan polos

"Jadi, V for Vito?" Tanya Nabilah, sedangkan aku mengangguk lagi. "Kenapa kakak gak cerita? Aku seneng banget tau ngeliat kakak pas war.. Keren!" Sahut Nabilah

Kini aku tersenyum kecil mendengar perkataan itu keluar dari mulutnya. "Be.. Benarkah? Makasih..." Jawabku disertai senyumku yang mengembang


[Author POV]


Sementara itu di SMA J


[Shania POV]

Sudah beberapa menit kutatap terus jam tanganku sambil kuhentak-hentakkan kaki kananku. Aku menunggu kehadiran kedua adikku itu, tidak bukan adik sungguhan. Maksudku adikku, ya Nabilah dan Vito. Aku tak bisa membohongi perasaanku yang tidak enak, namun aku terus mencoba berfikir positive.

"Kak Nju.. Kapan mulai?" Ujar Jeje sambil menepuk bahuku

Aku tersentak kaget dan menengok kearahnya tak lupa kuukir senyumku "kayaknya sekarang aja" jawabku

Jeje langsung bersedih "trus, Nabilah sama Vito gimana?" Tanya Jeje

"Emm.. Maaf tapi MOS harus segera dimulai..." Kataku, dengan cepat kunaiki panggung di lapangan yang khusus buat pengumuman.

Kutatap seluruh anak-anak MOS dengan bangga "selamat pagi adek-adek!!" Sapaku dengan semangat

"Pagii kaaaaaa"

"Wahh... Semangat banget nih.. Udah semangat belom buat MOS nya?!!" Sahutku lagi

"Udaahhh dongggggg"

"Wah........."


Braaakkkk!!!!


Belum ku selesaikan kalimatku, terlihat pintu pagar sekolah yang sudah ditutup di dobrak secara paksa. Dan terlebih lagi aku melihat satpam nya telah terjatuh lemah, sontak mataku membulat.

Anak-anak MOS segera berlarian mencari tempat sembunyi. Dari kejauhan aku dapat melihat mereka. Ya mereka dari SMA T, tepatnya Dicer SMA T

"SELAMAT HARI MOS!!!!!" Sahut ketua Dicer tersebut.

Aku dengan cepat menuruni panggung dan menemui Jeje, terlihat wajah Jeje sudah sangat cemas.

"Kak Nju... Bagaimana ini?" Tanya Jeje

"Hmm... Gini aja, kamu lari... Cepet lari!" Kataku sambil mendorong-dorong Jeje.

"Trus kakak gimana?" Tanya Jeje sambil menahan doronganku

"Gampanglah. Kakak bakal ngalihin perhatian dulu" kataku santai


[Axel POV]

Aku melihat kearah pintu gerbang yang sudah hancur lebur dan segrombolan orang memasuki area sekolah secara paksa

"SELAMAT HARI MOS!!!!!" Sahut salah satu dari mereka

Mataku langsung tertuju pada seorang gadis yang mencoba mendekati mereka, setelah kuhitung mereka ternyata ada 5 orang.

"Sh... Shania?" Gumamku sambil memperhatikan wajah gadis itu.

Aku langsung berlari mendekat.

Kini kulihat Shania sedang berdebat dengan salah satu dari mereka. Kulihat lelaki tersebut mencekik Shania, amarahku tak bisa kutahan.

Aku langsung berlari menuju lelaki itu "teleport!" Aku menteleport diriku dan muncul di depannya. Langsung saja kulayangkan sebuah tinjuan padanya.

Ia tersungkur menjauh, sementara Shania terjatuh sambil mencoba mengatur nafasnya.

"Are you okay?" Tanyaku sambil memegang kedua bahu Shania. Ia hanya mengangguk lemah.

"Ngapain sih pake acara sok-sok an gitu Nju..." Protesku

"Ih aku kan cuma ngulur waktu!" Sahut Shania padaku

"Terserah deh" kini aku menjongkok dan hendak menggendong Shania "ayo, naik" ajakku

Shania dengan malu-malu menaiki punggungku "tutup matamu" kataku, ia mengangguk dan menutup matanya "teleport!"

Aku men-teleport diriku dengan Shania menuju ke tempat Rizal.

"Oy Zal..." Sapaku

Ia sedang mengamati kami dari jendela lorong yang besar. "Hmm"

"Mereka anak-anak SMA T kan zal?" Tanyaku, kini Shania ingin turun dan ia turun dari gendonganku.

Rizal mengangguk "SMA T... Sungguh merepotkan!" Sahutnya, ia terlihat mengambil iPhone-nya dan memencet beberapa tombol.


[Author POV]

Sementara itu di rumahsakit tepatnya kamarnya Nabilah...


[Vito POV]

'Drrtt-drrrt-drrrtt'

Aku dengan malas melihat kearah iPhone ku yang bergetar. Disana tertulis

'Video Call'

From : Rizal

Hah Rizal? Ngapain ya?

"Kak kenapa gak diangkat?" Tanya Nabilah membuyarkan lamunanku

"Eh.. Emm... Iya" aku langsung mengusap tombol hijau dan disana sudah dapat kulihat wajah Rizal

"Vit..." Panggil Rizal

"Oy zal.. Napa?" Tanyaku to the point

"Can you come here?" Tanya Rizal, ia mengarahkan iPhonenya ke arah jendela. Aku melihat segrombolan anak-anak berseragam berbeda sedang merusak lingkungan sekolah.

Aku melirik sedikit kearah Nabilah. Lalu kembali kearah Rizal "mm.. Kenapa tuh?" Tanyaku

"Anak SMA T, dicer" jelas Rizal

"Woy Vit, sini tolongin kita!" Sahut seseorang yang kutebak Axel

"Gu.. Gue ga bisa... Nabilah masuk rumah sakit" jelasku

"Udah, gak apa kak... Kalo mau kesana yaudah" jelas Nabilah

"Tapi..."

"Udah gak papa" katanya

"Vit.. Gue tunggu lo disini" jelas Rizal lalu ia mematikan sambungannya.

Aku melirik sedikit kearah Nabilah, ia hanya mengangguk. Dengan sedikit takut aku mencium keningnya.

"Sebentar ya..." Ucapku, dapatku lihat rona merah di kedua pipinya. Ia mengangguk

"Teleport!"


[Rizal POV]


Kumasukkan iPhone-ku ke dalam kantong celana abu-abuku. "Tinggal tunggu Vito aja" kataku santai

Axel kembali menatap jendela kearah luar "mereka dicer" gumamnya

Kenapa ini? Perasaanku menjadi aneh... Tidak enak... Sialan... Oh aku lupa aku harus menjemput kak Ve.

"Jam berapa ini?" Tanyaku

"Jam sebelas lewat" balas Shania

"Oh... Gitu... Sip deh, tungguin Vito aja Xel.. Gue ada urusan" ucapku

"Wtf bro, urusan apa?" Tanya Axel


[Author POV]
[Flashback ON]

"Eumm... Zal..." Sapa Ve disela-sela memakan sarapannya

"Hmm?"

"Nanti jam sebelas tolong jemput kak Ve ya" ucap Ve

"Ya"

[Flashback OFF]
[Rizal POV]

"Disuruh jemput kak Ve" ucapku santai, aku berjalan santai melewati lorong sekolah menuju parkiran.

Aku dapat melihat beberapa anak MOS tengah bersembunyi diantara kelas-kelas. Bahkan di bawah meja.

Suasana sekolah sepi sekali...



[To be Continue]

@SeenaGL

Fanficnya jelek ya? O.o Gommen!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar