School Of Chaos
[Author : Seena]
Twitter : @SeenaGL
*Ciet, Plomosi* #PLAAKKK *digebuginReaderz*
Note :
Pakai hastag #SOC_Next kalo mau ff ini di next ke twitter ku ya
Tag :
Fanfict JKT48, Fanfiction JKT48, Cerbung JKT48, Fanfict Sinka JKT48, Fanfict Melody JKT48, Delusiin Oshi, Delusiin JKT48, Delusi Oshi, Delusi JKT48, Cerita JKT48, Cerita Bersambung JKT48
[Cast : ]
~ All Member JKT48
~ All Ex Member JKT48
~ Alvin Y
~ Alexander Samuel
~ Aloysio Tony Roberto Diaz
~ Beberapa guru sklh yg ga guna XD
[WARNING!!!]
Genre-nya gak nentu, ada Action, Romance (dikit), Humor (maybe), trus member JKT48 jadi sableg, sengklek, idiot, dll XD
Ni FF tadinye mau gue kasih spin off avatar : legend of aang, tp kgk jadi :v jadinya gue kasih judul School Of Chaos, soalnye ntar critanye mirip ama Naruto *Eh, kok gue beberin yak?* *Ditimpuq Readers*
[PROLOGUE]
Beberapa tahun yang lalu...
Di sebuah daratan terpencil layaknya sebuah pulau yang tidak berpenghuni, tidak terawat, dan minim penerangan, berjalanlah seseorang dengan gagah berani dan juga memakai jaket berwarna kehitaman.
Pria tersebut berjalan tegap menuju sebuah cahaya yang kecil berada di bawah tanah, sesampainya di tempat bercahaya tersebut pria itu menjentikkan jarinya.
'GABRUUUUKKKK'
Seketika itu juga tanah yang tadinya bercahaya menjadi runtuh, benar saja di bawah sana sudah ada seorang gadis yang seumuran dengan pria tersebut dan juga seorang anak kecil yang setia berdiri dibelakang gadis tersebut.
"A... Apa maumu..?" Gadis itu mencoba sebisa mungkin agar suara yang ia keluarkan tidak bergetar, ia mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan perasaan takut dan khawatirnya.
"Hahaha... Seperti biasa, Melody..." Ujar pria tersebut datar menggantungkan kalimatnya, sebuah senyum jahat terukir di wajah rupawan yang ia miliki.
Gadis bernama Melody tersebut terdiam. Ia membisu. Tepatnya tidak ada kata-kata lagi yang bisa ia keluarkan, ia takut, teramat takut, yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah memeluk adiknya dengan erat. Ia tidak mau kehilangan adik satu-satunya ini, hanya adiknya ini yang tersisa dari keluarga besar Melody.
Ya, seluruh keluarga besar Melody telah di bunuh. Tidak, tepatnya terbunuh akibat peperangan besar. Peperangan yang hanya menyisakan dirinya dan adiknya saat ini. Melody menatap tajam kedua mata pria di depannya seakan ingin melawan, namun apa daya Melody tidak dapat mengimbangi kekuatannya, bagaimana 'pun juga ia akan kalah, karena kekuatan yang ia punya saat ini terbilang biasa-biasa saja tidak terlalu hebat, namun tidak terlalu lemah standar-standar saja.
"Oh ayolah..." Bujuk pria tersebut masih terkekeh geli saat melihat tatapan Melody, kedua matanya yang berwarna merah pekat membalas tatapan Melody dengan lebih tajam "serahkan adikmu, maka nyawamu akan selamat... Imel..." Ujar Pria tersebut disertai sebuah seringai licik terpancar dari raut wajahnya.
"Kaaa~ Frieska takut..."
Gadis kecil tersebut memeluk erat kakaknya, seakan tidak ingin melepaskannya. Saking takutnya sudah tidak terhitung berapa kalinya gadis mungil ini buang air kecil di celana yang ia pakai saat ini, termasuk saat ini juga ia sedang buang air kecil.
Melody menatap iba kearah adik kesayangannya ini, sebelah tangannya membelai rambut adiknya ini. "Fries..." Panggil Melody lirih, ia tak bisa menahan bendungan airmata yang sudah nyaris jatuh dari kedua pelupuk matanya, bahkan bobol sudah pertahanan yang ia miliki sontak seisi airmatanya keluar membasahi kedua pipi halus yang ia miliki.
Melody segera memeluk adiknya yang lebih kecil 10 tahun darinya, otomatis baju yang dikenakan Frieska menjadi basah akibat airmata Melody yang sudah bocor sedari tadi.
"Tidak ada yang menyuruh kalian menangis dasar manusia lemah!" Sahut pria itu dengan kasar
"Kalo gitu, biarkan Frieska yang pergi kak.. Kakak tolong jaga mamah sama papah, Frieska akan tanggung semuanya" ujar gadis kecil bernama Frieska disela-sela isak tangisnya
"Frieska..." Panggil Melody lirih, perlahan namun pasti Frieska melepaskan pelukan mereka sambil mengusap airmata kakaknya ini.
"HAHAHA!!! Manusia BODOH! Mamah? Papah? Tidak ada satupun dari mereka yang selamat!" Sahut pria tersebut disertai sebuah tawa yang meledak darinya
Frieska membulatkan penuh kedua matanya, ia sangat dibuat kaget dengan perkataan pria di depannya, tidak maksudnya di depan atasnya. "Mama? Papa? Sudah gak ada? Jadi tinggal tersisa aku dan kakakku?" Batin Frieska berteriak, ia tak kuasa menahan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
"Sadarlah manusia bodoh! Tidakkah kau sadar, yang menemanimu sedari tadi hanyalah kakakmu sedangkan kedua orang tuamu telah mati sedari tadi!" Sahut pria itu
Frieska menatap kearah Melody yang masih memejamkan kedua matanya sambil tertunduk dan menangis. "AAAAAAAA!!!!" Seketika itu juga, pisau yang sedari tadi Frieska bawa di tangan kanannya ia tusukkan kearah dada kirinya tepat dibagian jantungnya.
"FRIESKA!" Jerit Melody sambil menahan pisau itu sebelum menusuk kearah dada Frieska.
Frieska yang tadinya memejamkan kedua matanya hanya dapat menatap Melody heran "kenapa kak.. Kenapa... Kalau mama sama papa udah gak ada, buat apa kita hidup di dunia seperti ini!" Teriak Frieska sambil meronta-ronta dari pegangan kakaknya.
"Frieska TENANG!" Bentak Melody, seketika Frieska berhenti memberontak. Ia tidak pernah mendengar bentakan dari kakaknya ini, bentakan tersebut membuat Frieska teramat takut bahkan ia tidak bergeming, hanya mematung ketakutan.
"Yang pria itu mau hanyalah kamu Fries... Bahkan mama sama papa aja rela ngorbanin nyawa mereka demi kita, demi kamu dan kakak...." Terang Melody "kalau kamu bunuh diri, itu sama saja kamu nyia-nyiain pengorbanan mama sama papa..." Melody kini menatap dalam-dalam kedua mata adik kesayangannya ini "sekali ini aja dek, dengerin kak Melody... Yang pria ini mau cuma kamu tinggal sama mereka, gak ada yang lain.... Cobalah untuk menerima dia, dia ayah kandung kamu" lanjut Melody panjang lebar
Frieska kembali menatap pria tersebut jijik, lalu kemudian menatap kearah kakaknya lagi "kaak... Bagaimana bisa aku tinggal sama ayah seperti dia? Kalaupun aku tinggal aku mau kakak ikut sama aku.." Pinta Frieska pada kakaknya tersebut.
Melody hanya menggeleng lemah sambil menatap Frieska, ia mencoba tegar, mencoba tidak menangis untuk kedua kalinya demi Frieska adiknya. "maaf tapi Kakak enggak bisa nurutin permintaan kamu Fries.. Yang pria itu mau cuma kamu, hanya kamu, bukan kakak" terang Melody yang mulai membelai lembut rambut Frieska
"Kalau begitu...." Frieska menatap mantap kearah pria tersebut "BIARIN AJA FRIESKA MATI!!!!" Jerit Frieska, lagi-lagi Frieska mencoba menusuk dadanya sendiri dengan pisau yang berada di tangannya.
"Cih...." Pria tersebut tidak tinggal diam, saat ia memajukan tangannya muncullah sebuah bayangan hitam pekat menahan lengan Frieska dan membatalkan proses bunuh dirinya tersebut.
Bayangan hitam itu merasuki tubuh Frieska, sekarang Frieska telah menutup kedua matanya dan bersikap tenang layaknya tidur. Ya ia tertidur dan dengan santainya bayangan hitam itu menggendong Frieska menuju tuannya yang sedari tadi menunggu mereka di atas.
Melody mematung sambil menatap pria tersebut dari bawah lubang "tolong jaga Frieska..." Ujarnya seraya mengalihkan pandangannya kearah tubuh Frieska yang tertidur sambil melayang.
Pria itu mengangguk "Sudah tugasku untuk menjaganya, Imel... Sekarang kau bebas, terima kasih sudah bersusah payah menyelamatkan anak ini..." Ujar Pria tersebut lalu menghilang dari pandangan Melody secara seketika yang membuat tubuh Melody merinding, apakah ia manusia? Atau hantu?
"Begitu rupanya... Frieska maafin kak Melody yang nggak ngasih tau kamu soal ini dari dulu... Sekarang kakak nyesel banget" gumam Melody lirih, sedetik kemudian ia merasa kepalanya pusing bahkan ia tidak dapat menopang tubuhnya lagi. Ia terjatuh ke tanah sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Ugh... Mungkinkah ini waktunya...?" Tanya Melody pada dirinya sendiri, sakit kepala yang teramat ini telah ia rasakan semenjak kehadiran pria tadi. Saat ia bertemu dengan pria itu, kepala Melody pasti akan merasakan sakit baik itu saat bertemu ataupun seusai bertemu.
Saat ini hanya keputus asaan yang ia rasakan, ia merasa tidak ada lagi kesempatan untuk ia hidup di dunia hampa ini. Toh ia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang manusia lemah.
"Hey, jangan tidur aja dong... Ayo keluar" ucap seorang gadis dari atas lubang yang menyodorkan tangan kanannya mencoba meraih tangan Melody.
Melody melihat kearah gadis itu "Vi... Vienny?" Tanya Melody tidak percaya, ia mencoba meraih tangan Vienny, nama gadis yang telah menyelamatkannya.
Dengan sekuat tenaga, Vienny mencoba menarik kuat tangan Melody hingga ia berhasil mengeluarkan Melody dari dalam lubang yang cukup besar itu.
"Kak Melody ngapain sih pake acara tiduran di lubang gitu, kalo ada prajurit dari Darkness baru tau deh..." Ledek Vienny seraya berdiri
Melody hanya bisa duduk ditepian dari lobang yang ada di bawahnya. Ia melamun memutar kembali kejadian yang baru saja terjadi, Frieska telah bebas bersama pria itu yang tidak lain adalah raja Darkness dan juga merupakan ayah kandung dari Frieska.
Melody tidak bisa memaafkan dirinya karena ia sudah menyembunyikan status mereka berdua sebagai kakak adik yang tidak kandung, jadi selama ini Frieska dirawat oleh orang tua Melody, sementara ibu dari Frieska telah meninggal dan tersisa hanya ayahnya saja.
"Mungkin ini yang terbaik buat kamu..." Gumam Melody
"Eh?" Vienny kini telah duduk di samping Melody sambil memperhatikan wajah Melody yang daritadi hanya murung "ada masalah ya kak?" Tanya Vienny sambil terus kedua matanya mencermati raut wajah Melody
"Frieska..." Gumam Melody
"Aaahh... Begitu..." Vienny mengangguk paham akan masalah yang dihadapi temannya ini, walau berbeda 2 tahun namun Vienny menganggap Melody sebagai kakak juga sebagai temannya bahkan sebagai Sahabat sejatinya. "Rupanya Frieska sudah pulang bersama aya
hnya ya?" Tebak Vienny
Melody mengangguk kecil sambil tertunduk ia memperhatikan lobang besar yang berada tepat di bawah kakinya, otaknya kembali memutar video-video ingatannya tentang kebersamaan dirinya beserta Frieska.
"Frieska... Terima kasih sudah jadi adik kecilku, adik yang kusayangi, adik yang bawel cerewet dll, walau sifat kamu gitu kakak tetep bangga punya adik kayak kamu Fries... Kamu yang udah bisa bikin kakak tertawa, bahagia, bahkan berhasil keluar dari kesedihan saat tau mama dan papa telah meninggal...." Lirih Melody ntah pada siapa "Terima kasih, Frieska..." Lanjutnya
Di sisi lain, terlihat wajah Frieska yang tersenyum walau ia sedang di bawah alam sadarnya.
Pria yang dari tadi menatap lembut kearah Frieska hanya dapat tersenyum tipis "Dasar Melody... Dia berhasil memastikan pada Frieska kalau dia adalah kakak kandungnya, dasar Imel..." Gumam pria tersebut, tangan kanannya dengan sigap membelai rambut Frieska.
SCHOOL OF CHAOS
NOW START!!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar